Grebeg Pancasila Kota Blitar Di Era Tahun 2001-2016

IMG-20160602-WA0002

Blitar, Beritamadani.co.id – Seperti tahun lalu dan tahun tahun sebelumnya, Upacara Budaya yang ada di Blitar disebut Grebeg Pancasila, selalu meriah dan mempesona. Tahun 2015 yang lalu bahkan sempat dihadiri oleh RI-1 (Bapak Presiden Jokowi, red) dan Anggota MPR RI, sehingga menyedot perhatian masyarakat di seantero tanah air. Bahkan ini ternyata cikal bakal ide Presiden kita Jokowi, kemarin,Tanggal  1 Juni 2016, di Bandung mengumumkan Keppres baru, 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila, “Maka, dengan mengucap syukur Kepada Allah dan Bismillah, dengan Keputusan Presiden, Tanggal 1 Juni ditetapkan untuk diliburkan dan diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila”.

IMG-20160602-WA0004

Dalam Upacara Budaya Grebeg Pancasila Kota Blitar 2016 ini, walaupun tidak semeriah tahun 2015, tidaklah mengurangi antusias Warga Bumi Bung Karno, Blitar Raya ini, untuk menghargai kesakralan 1Juni. “Kurang lebih peserta (petugas inti yang terlibat di acara Grebeg Pancasila, red) adalah 700 an orang mas. Terdiri dari Muspida Kabupaten dan Kota Blitar, SKPD, anak-anak pelajar dan warga dari 22 kelurahan dari 3 wilayah kecamatan sekota Blitar.” Kata Wisnu Hananta Dewa, Budayawan muda Kota Blitar, yang sekaligus Pengajar di SMPN 2, Kota Blitar, tersebut kepada Awak Media Beritamadani.co.id.

“Luar biasa mas, kami rombongan dari Kediri dapat kontak dari teman-teman di Malang, bahwa 1 Juni di Blitar ada upacara gaya seniman”. “Wah, setelah menyaksikan sendiri kami jadi ketawa, lucu mas”. “Tapi sekaligus bisa bikin menangis terharu”.” Betapa hebat Warga Pecinta Bung Karno di Blitar ini menghargai Bung Karno sebagai Pencetus Penggagas Pancasila, sebagai Falsafah Bangsa Besar seperti  Bangsa Kita Indonesia”, komentar Cahyo, pengamat dari Kota Kediri.

“Ini namanya baru benar !”. “Masak Orde Baru mencantumkan, 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila, tapi tidak mengakui Bung Karno sebagai Pencetus Pancasila!”.” Ingat dong Pidato Bung Karno, 1 Juni 1945”.” Baca sejarah yang benar ya, anak anak muda?! hehehe…”Celoteh Pak Made, sang Nasionalis gaek berusia 65 an tahun dari Kediri.

“Grebeg Pancasila sudah ada sejak masa pemerintahan Walikota Blitar, Bapak H.Samanhudi Anwar, SH., sudah dijadikan agenda rutin daerah mas”. “Sudah masuk di Mata Anggaran APBD Kota Blitar”. “Jadi wajar kalau meriah dan isyu gebyarnya luarbiasa, jika dibanding era tahun tahun awal 2001, dimana pada Masa Walikota Bapak Djarot Syaiful Hidayat (sekarang Wagub DKI Jakarta, red) bahkan hanya dibiayai dari kocek kantong pribadi Pak Walikota dan hasil Urunan Teman- teman Seniman Budayawan Kabupaten dan Kota Blitar”,  keterangan dari Pujianto, Bagian Publikasi Panitia Grebeg Pancasila 2016, kepada awak BeritaMadani.co.id.

Memang,” JASMERAH!!”.” Tepat sekali penggalan kalimat monumental Bung Karno tersebut untuk kita generasi penerusnya”. “Jangan sekali kali melupakan sejarah! “.”Kesuksesan GREBEG PANCASILA 2016 kali ini adalah berawal dari sejarah panjang dan berdarah darah …” Timpal Ki Raban Yuwono, Pinisepuh dari Blitar Kawentar.

“Dulu, ya para seniman ini yang dikoordinir Mas Bagus Putu Parto yang menggagas Grebek Pancasila, sehingga sekarang jadi meriah ini mas. Dulu, wah… soro!”.”Rekoso banget!”,” Itu mas Jontor Siswanto dan Mbak Christin dan teman temannya model di Delavega Modelling Club Blitar, sama mas Jontor di plokotho (di rayu, dipaksa) untuk mau menjadi Pasukan Pengibar Bendera, dari Istana Gebang berjalan tanpa alas kaki menuju Makam Bung Karno. Lecet mas, berdarah darah”. “Tapi tidak cengeng, tidak nangis, walaupun tidak punya duit, punya gagasan dijalankan!”.” Apalagi gagasan yang punya nilai budaya tinggi seperti ini”. “Karena mereka tahu diri, tahu menghargai betapa dulu Bung Karno lebih soro dalam menggali Pancasila sehingga menjadi falsafah suci bangsa kita ini”. Wejangan Ki Raban Yuwono, di sela sela Kenduri Pancasila di Area Perpustakaan Nasional di Selatan Pusara Sang Proklamator tersebut.

IMG-20160602-WA0003

Di dalam tulisannya, ” Membangun Tradisi Kesenian Baru”, dalam Buku Di Bawah Panggung / Kesenian Blitar 2012, Bagus Putu Parto menjelaskan: “Konsep awal Grebeg Pancasila dibagi menjadi 3 Ritus budaya. Ritus 1, Upacara Budaya (pelaksanaan upacara tidak gaya militer tapi gaya seniman, red). Ritus2, Kirap Gunungan Lima (dari Istana Gebang menuju Makam Bung Karno). Ritus 3, Kenduri Pancasila (slametan tumpengan dan doa bersama lintas agama) di Makam Bung Karno”. Masih kata Bagus Putu Parto, “Melalui proses latihan dan ide ide penyempurnaan tersusunlah pelaku pelaku Pelaksana Grebeg Pancasila dulu yang pertama sbb: 1. Susanto WS (alm) dan Bagus Putu Parto, Penata laku. 2. Ki Wandono, penggarap iringan gamelan, yang oleh Ki Susanto WS di pedan gending “Ibu Pertiwi” kesukaan Bung Karno, ciptaan Ki Narto Sabdo. Juga ditembangkan mocopat Hari Lahirnya Pancasila, oleh Ki Sugito (alm). 3. Drs. Suwardjo (alm), Pembaca Teks Pancasila. 4. Jontor Siswanto dkk (modelling dari Delavega Modelling Club, red) sebagai pengibar bendera. 5. Ki Sukowiyono, penata tari. 6. Susanto WS (alm) pembaca naskah gara gara. 7. Lik Her dan Jayeng Sutrisno, pembuat gunungan lima. (menggambarkan Hari Lahir Pancasila, 1-6-45). 8. Ki Mujiono, werkudara, manggala(komandan upacara). 9. Drs. Pratiknyo YS (mantan Kakandiknas Kota Blitar, red) sebagai pembina upacara”.

Demikian sisi lain dari makna sejarah suksesnya Grebeg Pancasila, diambil dari sumber peristiwa era 2001 – 2016. Semoga bermanfaat, paling tidak bisa sebagai teman berdiskusi sejenak, disela sela kesibukan kita hari ini. (Wasis).

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *