Malang, www.beritamadani.co.id – Perkembangan wastra atau kain tradisional makin banyak diminati berbagai kalangan. Seperti tenun, songket, kain ikat termasuk batik, makin digemari karena khas unik dan mengadung nilai seni dan upaya pelestarian tradisi.

Salah satunya batik, metodenya malam panas yang dituangkan ke kain yang menjadi pemisah warna satu dengan yang lain yang mengasilkan seperti atau gambar ini makin banyak peminatnya. Terlebih setelah Unesco menetapkan sebagai warisan Budaya Indonesia, pemakaiannya meningkat drastis dan di mana-mana masyarakat Indonesia bangga memakai kain batik.

Batik yang sudah ada sejak era Majapahit dan berkembang dimasa Mataram hingga saat ini karena justru karena ragam motif dan warna yang sangat kaya. Kini produksi batik tidak hanya dominan di Solo, Jogja, Pekalongan saja, tapi sekarang hampir menyeluruh di tiap daerah di Jawa termasuk di Kota Malang.

Saking ramainya kegiatan UMKM yang berhubungan dengan kain atau wastra makin meningkat. Selain Batik yang paling modern dan ngetren Shibori, Ecoprit, kain printing lukis kain/kaos dll. Tentu ini menumbuhkan ekonomi kreatif dan dapat meningkatkan pemberdayaan UMKM.

Masalahnya. Ragam macam praktek wastra dan dunia kain itu memang perlu dipertegas. Antara lain batik ya batik, shibori ya shibori, ecoprint ya ecoprint, begitu pula yang lainnya. Masyarakat perlu edukasi dan literasi agar bisa membedakan karena menyangkut soal kualitas dan hasil karya

Minggu, 5 Mei 2024 kemarin, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang menggelar Tolkshow Batik Malang bertemakan Shibori Bukan Batik? di Batik Tulis Celaket Kota Malang. Dua narasumber Nur Zanah owner Batik dari Sukun dan Kusniati owner Batik Niati dari Bunul mempertegas perbedaan antara batik dan Shibori.

Shibori itu sendiri adalah teknik atau seni pewarnaan kain asal usulnya dari Jepang dengan cara mencelupkan kain yang telah dilipat atau diikat ke dalam pewarna sehingga menghasilkan pola tertentu atau unik. Hasil Shibori nyembur semburat warnanya sepeti sinar tak beraturan

“Sekalipun menggunakan pewarna alami jelas Shibori itu bukan batik” Terang Nur Zanah meskipun biasanya pewarnanya juga menggunakan pewana batik baik pewarna sintetis maupun warna alami. “Kecuali Shibori yang sudah jadi lantas dibatik dengan malam panas dan diberi pewarnaan lainnya baru bisa di sebut Shibori Batik”.

Kusniati menemukan kasus kasus pelatihan Shibori dengan embel-embel Batik Shibori yang nyata nyata prakteknya hanyalah Shibori yang tidak ada proses membatiknya. “Kita banyak jumpai pelatihan di kelurahan, komunitas, instansi bahkan di tempat pembatik sendiri yang terkadang menggunakan nama ini (Batik Shibori)”.

“Tentu harus kita luruskan dan kita edukasi masyarakat agar paham betul apa itu Batik dan apa itu Shibori,” tegas owner Batik Niati dari Bunul.

Kegiatan Tolkshow Batik Malang ini di fasilitasi oleh APBKM (Asosiasi Perajin Batik Kota Malang) yang dihadiri lebih dari 30 owner Batik Tulis di Kota Malang yang diapresiasi oleh Pembina APBKM Hanan Jalil Owner Batik Tulis Celaket.

“Teruslah membatik karena ini melestarikan tradisi nenek moyang kita, jangan lupa sambil berkreasi tanpa batas dan jangan takut dengan persaingan usaha, makin banyak pembatik makin terkenal batik kita Batik Malang”. Pungkas Hanan yang sering selenggarakan Festival Batik Tulis Celaket. (Yuni)

Previous post <strong>Menanggapi Keluhan Warganya Pj Wali Kota Wahyu Hidayat Sidak TPS Jatimulyo</strong>
Next post <strong>Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat Terima PPD Tingkat Nasional Tahun 2024</strong>