Anak Dengan Kesulitan Belajar Spesifik Diskalkulia Dan Dispraksia

abs2221 abs2222

Malang, Beritamadani.co.id – Sahabat Madani, pada minggu yang lalu kita telah belajar tentang disleksia dan disgrafia, kali ini marilah kita melanjutkan belajar bersama mengenai anak dengan kesulitan belajar spesifik diskalkulia dan dispraksia.

Sepintas dipikiran kita tentunya tidak asing dengan istilah kata kalkulasi atau mengkalkulasi, yaitu menghitung. Tetapi apakah arti kata yang terasa asing dan tidak populer, seperti dispraksia?. Untuk mempercepat pemahaman kita dan mengetahuinya, mari kita bahas 2 hal tersebut, pada sharing bagian#2 ini:

1.Apa itu Diskalkulia ?

Dari berbagai sumber, kata diskalkulia berasal dari bahasa yunani  “dyscalculis” yang berarti tidak dapat berhitung. Jacinta F. Rini, M.Psi, dari Harmawan Consulting, Jakarta, berpendapat diskalkulia dikenal juga dengan istilah “math difficulty” karena menyangkut gangguan pada kemampuan kalkulasi secara matematis. Kesulitan ini dapat ditinjau secara kuantitatif yang terbagi menjadi bentuk kesulitan berhitung (counting) dan mengkalkulasi (calculating). Anak yang bersangkutan akan menunjukkan kesulitan dalam memahami proses-proses matematis. Hal ini biasanya ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dan mengerjakan tugas yang melibatkan angka ataupun simbol matematis.

Sedangkan menurut dr. Sri Hastuti Andayani, SpA,  ada banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya diskalkulia, antara lain kelainan pada otak, terutama dibagian penghubung antara bagian parietal dan temporal otak. Faktor keturunan juga bisa menentukan. Masih menurut nya pula, penderita diskalkulia umumnya anak-anak, tetapi tidak secara spesifik menyerang anak usia tertentu, biasanya terjadi pada saat anak menginjak usia sekolah sekitar usia 7 tahun. Penderita diskalkulia umumnya mempunyai IQ normal, tetapi ada yang melebihi rata-rata atau cukup tinggi.

Anak diskalkulia dapat mengikuti pelajaran yang hanya memerlukan logika dan hafalan, seperti biologi atau bahasa, dan anak diskalkulia dapat berinteraksi normal seperti biasa hanya dalam pelajaran berhitung akan mengalami kesulitan.

Banyak anak-anak(siawa) yang memandang matematika sebagai bidang studi yang paling sulit, sekaligus dijadikan sebagai “momok” diantara berbagai macam bidang studi lainnya. Karena persepsi anak seperti itulah mereka menjadi takut jika dihadapkan dengan dunia hitung-menghitung. Kesulitan semacam ini dialami oleh anak yang normal (tidak berkesulitan belajar) dan terlebih lagi oleh anak yang berkesulitan belajar.

Kesulitan belajar matematika merupakan salah satu jenis kesulitan belajar yang spesifik dengan prasyarat rata-rata normal atau sedikit di bawah rata-rata, tidak ada gangguan penglihatan atau pendengaran, tidak ada gangguan emosional primer, atau lingkungan yang kurang menunjang. Masalah yang dihadapi yaitu sulit melakukan penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian yang disebabkan adanya gangguan pada sistem saraf pusat pada periode perkembangan. Anak berkesulitan belajar matematika bukan tidak mampu belajar, tetapi mengalami kesulitan tertentu yang menjadikannya tidak siap belajar. Matematika sering menjadi pelajaran yang paling ditakuti di sekolah.

Anak dengan gangguan diskalkulia disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam membaca, imajinasi, mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman, terutama dalam memahami soal-soal cerita. Anak-anak diskalkulia tidak bisa mencerna sebuah fenomena yang masih abstrak. Biasanya sesuatu yang abstrak itu harus divisualisasikan atau dibuat konkrit, baru mereka bisa mencerna. selain itu anak berkesulitan belajar matematika dikarenakan pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar siswa, metode pembelajaran yang cenderung menggunakan cara konvensional, ceramah dan tugas. Guru kurang mampu memotivasi anak didiknya. Ketidaktepatan dalam memberikan pendekatan atau strategi pembelajaran.

a.Ciri-ciri Diskalkulia

  • Tingkat perkembangan bahasa dan kemampuan lainnya normal, malah seringkali mempunyai memori visual yang baik dalam merekam kata-kata tertulis.
  • Sulit melakukan hitungan matematis. Contoh sehari-harinya, ia sulit menghitung transaksi (belanja), termasuk menghitung kembalian uang. Seringkali anak tersebut jadi takut memegang uang, menghindari transaksi, atau apapun kegiatan yang harus melibatkan uang.
  • Sulit melakukan proses-proses matematis, seperti menjumlah, mengurangi, membagi, mengalikan, dan sulit memahami konsep hitungan angka atau urutan.
  • Terkadang mengalami disorientasi, seperti disorientasi waktu dan arah. Si anak biasanya bingung saat ditanya jam berapa sekarang. Ia juga tidak mampu membaca dan memahami peta atau petunjuk arah.
  • Mengalami hambatan dalam menggunakan konsep abstrak tentang waktu. Misalnya, ia bingung dalam mengurut kejadian masa lalu atau masa mendatang.
  • Sering melakukan kesalahan ketika melakukan perhitungan angka-angka, seperti proses substitusi, mengulang terbalik, dan mengisi deret hitung serta deret ukur.
  • Mengalami hambatan dalam mempelajari musik, terutama karena sulit memahami notasi, urutan nada, dan sebagainya.
  • Bisa juga mengalami kesulitan dalam aktivitas olahraga karena bingung mengikuti aturan main yang berhubungan sistem skor.
  • Proses penglihatan atau visual lemah dan bermasalah dengan spasial (kemampuan memahami bangun ruang). Dia juga kesulitan memasukkan angka-angka pada kolom yang tepat.
  • Kebingungan menentukan sisi kiri dan kanan, serta disorientasi waktu (bingung antara masa lampau dan masa depan).
  • Bingung membedakan dua angka yang bentuknya hampir sama,misalkan angka 7 dan 9, atau angka 3 dan 8. Beberapa anak juga ada yang kesulitan menggunakan kalkulator.
  • Kesulitan memahami konsep waktu dan arah. Akibatnya, sering kali mereka datang terlambat ke sekolah atau ke suatu acara.
  • Salah dalam mengingat atau menyebutkan kembali nama orang.
  • Memberikan jawaban yang berubah-ubah (inkonsisten) saat diberi pertanyaan penjumlahan, pengurangan, perkalian atau pembagian. Orang dengan diskalkulia tidak bisa merencanakan keuangannya dengan baik dan biasanya hanya berpikir tentang keuangan jangka pendek. Terkadang dia cemas ketika harus bertransaksi yang melibatkan uang (misalkan di kasir).
  • Kesulitan membaca angka-angka pada jam, atau dalam menentukan letak seperti lokasi sebuah negara, kota, jalan dan sebagainya.

b.Faktor Penyebab

Ada beberapa faktor yang melatar-belakangi gangguan ini, diantaranya:

  • Kelemahan pada proses penglihatan atau visual.
  • Anak yang memiliki kelemahan ini kemungkinan besar akan mengalami diskalkulia. Ia juga berpotensi mengalami gangguan dalam mengeja dan menulis dengan tangan.
  • Bermasalah dalam hal mengurut informasi.
  • Seorang anak yang mengalami kesulitan dalam mengurutkan dan mengorganisasikan informasi secara detail, umumnya juga akan sulit mengingat sebuah fakta, konsep ataupun formula untuk menyelesaikan kalkulasi matematis. Jika problem ini yang menjadi penyebabnya, maka anak cenderung mengalami hambatan pada aspek kemampuan lainnya, seperti membaca kode-kode dan mengeja, serta apa pun yang membutuhkan kemampuan mengingat kembali hal-hal detail.
  • Fobia matematika

Anak yang pernah mengalami trauma dengan pelajaran matematika bisa kehilangan rasa percaya dirinya. Jika hal ini tidak diatasi segera, ia akan mengalami kesulitan dengan semua hal yang mengandung unsur hitungan.

Gangguan penghayatan tubuh.

Anak berkesulitan belajar matematika sering memperlihatkan adanya gangguan penghayatan tubuh (body image). Anak demikian  merasa sulit untuk memahami hubungan bagian-bagian dari tubuhnya sendiri. Jika anak diminta untuk menggambar tubuh orang misalnya, mereka akan menggambarkan dengan bagian-bagian tubuh yang tidak lengkap atau menempatkan bagian tubuh pada posisi yang salah. Misalnya, leher tidak tampak, tangan diletakkan di kepala, dan sebagainya.

Kesulitan dalam bahasa dan membaca.

Matematika itu sendiri pada hakikatnya adalah bahasa simbolis (Johnson & Myklebust, 1967: 244). Oleh karena itu, kesulitan dalam bahasa dapat berpengaruh terhadap kemampuan anak di bidang matematika. Soal matematika yang berbentuk cerita menuntut  kemampuan membaca untuk memecahkannya. Oleh karena itu, anak yang mengalami kesulitan membaca akan mengalami kesulitan pula dalam memecahkan soal matematika yang berbentuk cerita tertulis.

2.Apa itu Dispraksia ?

Dari berbagai sumber, dispraksia berasal dari kata “dys” artinya tidak mudah atau sulit dan “praxis” artinya bertindak, melakukan. Nama lain Dispraksia adalah Development Co-ordination Disorder (DCD), Perceptuo-Motor Dysfunction, dan Motor Learning Disability. Pada jaman dulu lebih dikenal dengan nama Clumsy Child Syndrome. Dan menurut penelitian disebutkan bahwa gangguan ini kadang diturunkan dalam keluarga dan gejalanya tumpang tindih dengan gangguan lain yang mirip misalnya disleksia.

Menurut penelitian secara medis, dispraksia adalah gangguan atau ketidakmatangan anak dalam mengorganisir gerakan akibat otak kurang memproses informasi sehingga pesan-pesan tidak secara penuh atau benar ditransmisikan. Dispraksia mempengaruhi perencanaan apa-apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya. Hal ini menyebabkan timbulnya kesulitan dalam berpikir, merencanakan dan melakukan tugas-tugas motorik atau sensori.

Masalah dispraksia terjadi ketika otak mencoba memerintahkan untuk melaksanakan apa yang mesti dilakukan, namun kemudian sinyal perintah otak itu diacak sehingga otot tidak dapat membaca sinyal tersebut. Keluarga yang hidup dengan anak dispraksia sering kali biasanya tidak menyadari kondisi anak dengan segera. Hal ini menyebabkan anak dispraksia mempunyai kepercayaan diri yang rendah akibat gangguan yang dideritanya dan kekurangtahuan keluarga. Anak dispraksia juga rawan terhadap gangguan depresi serta mempunyai kesulitan dalam emosi dan perilaku.

Orang sering kali salah mempersepsikan dan mengartikan ketika menemui anak-anak yang sukar berbicara atau mengeja umumnya dianggap sebagai disleksia padahal mungkin dapat saja yang terjadi adalah sebenarnya anak tersebut memiliki gejala dispraksia. Anak yang mengalami dispraksia verbal memiliki otot yang lengkap dan berfungsi dengan baik. Sebetulnya otot mereka dapat membuat bunyian yang benar. Hanya saja, otot-otot yang terlibat tidak dapat mengucapkan bunyian-bunyian tersebut sesuai kehendak. Oleh karena itu, anak-anak yang memiliki masalah ini mengalami kesulitan mengucapkan bunyian-bunyian tertentu dan lafal ucapan mereka menjadi tidak jelas. Misalnya, anak yang satu bisa saja bermasalah menyedot dan meniup busa sabun. Anak yang lain mungkin bermasalah mengatur gerakan ujung lidah.

a.Ciri-ciri Anak Dispraksia

Anak dispraksia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Kesulitan dalam berkata-kata maupun mengekspresikan diri.
  • Sebagian anak dispraksia terlalu sensitif terhadap sentuhan.
  • Sukar mengingat instruksi dan menyalin tulisan dari papan tulis.
  • Tidak dapat menangkap konsep seperti: “di bawah”, “di atas”, “di dalam” atau “di luar”.
  • Mengalami kesukaran dalam memakai baju, menalikan sepatu dan menggunakan garpu atau pisau.
  • Keseimbangan badan yang buruk, sulit belajar naik sepeda.
  • Kemampuan membaca yang rendah dan buruk dalam menulis.
  • Sebagian anak dispraksia mengalami articulatory dyspraxia yang menyebabkan mereka mengalami kesulitan dalam berbicara dan mengeja.

b.Penanganan untuk Anak Dispraksia

Sebagai suatu sistem pendidikan untuk anak-anak dengan gangguan motorik, Conductive Education mengajarkan bagaimana untuk “break down” kemampuan dan keterampilan yang mereka coba untuk ditampilkan. Dengan keberhasilan, keyakinan, dan kepercayaan diri yang meningkat, mereka dapat melatihnya dalam kehidupan sehari-hari.

Anak dispraksia kurang efektif jika dimasukkan dalam kelas khusus untuk anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Yang dibutuhkan oleh anak-anak dispraksia adalah terapi satu lawan satu yaitu suatu terapi dimana satu orang anak dispraksia ditangani oleh satu orang fisioterapis atau speech pathologist. Mereka butuh penanganan dan dukungan profesional secara teratur termasuk juga dukungan dari pendidikan yang dijalani.

Anak dispraksia biasanya dapat disembuhkan tergantung dari tingkat keparahannya. Ada kemungkinan kambuh beberapa kali tapi tingkat kesukaran dalam koordinasi gerakan akan semakin menurun. Anak juga bisa sembuh sendiri namun lebih lambat dan tidak seefisien jika ditangani oleh terapis.

Sahabat pembaca www.beritamadani.co.id, berarti genap sudah penulis bagikan mengenai 4 macam gangguan dalam kesulitan belajar spesifik, yaitu: 1.Disleksia, 2.Disgrafia, 3.Diskalkulia dan 4.Dispraksia.

Perhatian khusus sangat diperlukan untuk anak-anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik ini, sehingga kita bisa mengetahui lebih mendalam kesulitan apa saja yang dialaminya dan mencarikan solusi yang tepat untuk proses pengajaran.

Seringkali kita dengan sembarangan menyebut mereka anak bodoh, berhati-hatilah dalam menyebut demikian, karena sebenarnya anak bodoh itu tidak ada, hal ini akan sangat mempengaruhi anak secara psikologis. Seorang anak dengan gangguan belajar spesifik, memiliki kelebihan dan kekurangan yang akan saling menyeimbangkan. Kecerdasan juga bermacam-macam bentuk dan aktualisasinya maka sebagai orang tua ataupun guru, juga masyarakat luas, hendaknya berusaha untuk memahami semuanya, dengan selalu berpikir positif untuk semua anak-anak kita.

Penulis: Firdiani Yuliana, S.Psi

Daftar Pustaka

  1. Achyar,Dr,M.Pd.Konsep Dasar Pengembangan Presepsi Visual, Auditori, Kinesteik Dan Taktil Bagi Anak Kesulitan Belajar, Kementerian P dan K, P4TK dan PLB Bandung 2014.
  2. Mudjito, AK,Msi.Tulkit LIRP Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, 2007
  3. Munawir Yusuf,dkk (2003). Pendidikan bagi anak dengan problema belajar. Tiga Serangkai.

 181 total views,  1 views today

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL