Wayang Thengul Dalam Festival Panji

IMG-20170719-WA0054 IMG-20170719-WA0053

Kediri, Beritamadani.co.id – Festival Panji Nasional yang diadakan bersamaan dengan Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri, di Kawasan Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri, mempunyai banyak agenda acara, salah satunya Pementasan Wayang Thengul dari Kabupaten Bojonegoro. Wayang Thengul ini menceritakan lakon “Aji Gineng Angling Dharma”.

Sinopsis Cerita Aji Gineng Angling Dharma: Menurut cerita leluhur dalam cerita tutur, Aji Gineng Angling Dharma adalah Peninggalan Nabi Sulaiman, tepatnya terkenal pada Jaman Sylendra. Aji Gineng Angling Dharma yaitu ilmu bahasa, tepatnya ilmu untuk memahami bahasa binatang. Bicara dengan binatang dan bicara dengan makhluk lain di luar angkasa.

Tatkala Angling Dharma berjasa pada Nagaraja, setelah menggagalkan perbuatan tidak senonoh antara Naga Gini dengan Ula Tampar. Berkat kebaikan dan kejujuran Angling Dharma, maka Nagaraja memberikan hadiah (surprise) kepada Prabu Angling Dharma berbentuk Aji Gineng.

Namun selain ilmu itu sangat bermanfaat, juga mendatangkan malapetaka. Pada saat Setyowati sang permaisuri meminta diajari aji-aji tersebut, ditolak oleh Angling Dharma, maka sang Dewi Setyowati memilih “Mati Obong”. Dia merasa cinta kasih pada suami tidak dihargai. Demi wasiat Sang Guru Nagaraja untuk tidak memberikan Aji Gineng pada siapapun juga, maka Angling Dharma haruslah memilih salah satu diantara dua pilihan. Memegang teguh pada guru atau harus memenuhi permintaan sang istri, jadilah buah simalakama.

IMG-20170719-WA0055 IMG-20170719-WA0051

Saat dikonfirmasi Awak Beritamadani.co.id, Suyanto selaku Kepala Seksi Budaya dan Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro menyampaikan, “Dinamakan Wayang Thengul karena wayangnya berbentuk 3 dimensi, antara wayang kulit dengan wayang golek, wajahnya methungul (menonjol, red). Dalang Wayang Thengul ini bernama Ki Suntoro Mudo Carito, dari Kabupaten Bojonegoro”.

“Aji Gineng itu sendiri adalah Aji Bahasa, tepatnya ilmu untuk memahami bahasa binatang. Bicara dengan binatang dan bicara dengan makhluk lain di luar angkasa. Nilai edukasinya disini, bahwa pesan guru dan ilmu itu tidak sembarangan. Kalau sudah diterima dan ada pesan, tolong jangan melanggar atau ingkar dari ilmu atau pesan guru itu”, pungkas Suyanto.

Banyak pengunjung Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri yang menonton Pementasan Wayang Thengul ini, karena di Kediri belum pernah ada Pementasan Wayang Thengul. Mereka terkesima dan kagum melihat Pementasan Wayang Thengul Kesenian Daerah dari Kabupaten Bojonegoro. (Widya)

Share This:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL