Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk Dengan Lakon “Babat Wono Marto”

IMG-20170703-WA0008 IMG-20170703-WA0013

Blitar, Beritamadani.co.id – Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk dengan Lakon “Babat Wono Marto” merupakan Rangkaian Acara Kirab Tumpeng Agung Nusantara Gotong Royong ke-6, yang terselenggara berkat kerjasama Lembaga Pelindung dan Pelestari Budaya Nusantara (LPPBN) dengan Pemerintah Kabupaten Blitar.

Acara ini dihadiri oleh Kepala Wilayah Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, Perwakilan Disbudparpora Kabupaten Blitar, Pepadi Kabupaten Blitar, Warga dan Tokoh Masyarakat Sekitar Candi Penataran, Sesepuh Pinisepuh Lembaga Pelindung dan Pelestari Budaya Nusantara (LPPBN), Perwakilan Paguyuban Kejawen dan Kepercayaan Wilayah Kediri, Blitar, Tulungagung dan Malang.

Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk Dengan Lakon, “Babat Wono Marto”, dilaksanakan pada Hari Sabtu, 01 Juli 2017, di Kawasan Wisata Candi Penataran Blitar, dimulai Pukul 19.15 WIB. Diawali dengan Tembang Macapat oleh Ki Wito, Ki Amang dan Ki Yoyok. Ditengah-tengah tembang Macapat, diselingi dengan Pementasan Drama Teater, berjudul Calon Arang oleh IGTKI (Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia), Kecamatan Ponggok dan disutradarai oleh Drs. Evan Koeswantoro, dari Sanggar Teater Tanjung Sari, Kota Blitar.

  IMG-20170703-WA0009 IMG-20170703-WA0011

Saat dikonfirmasi Awak Beritamadani.co.id, Evan Koeswantoro menyampaikan, “Sinopsis dari pementasan drama teater Calon Arang ini adalah Calon Arang merasa tersinggung karena difitnah oleh orang-orang Desa Girah sebagai dukun teluh dan biang keladi dari malapetaka yang terjadi di Desa Girah oleh karena itu semua orang menjauhi anaknya yang bernama Retno Manggali”.

“Retno Manggali (anak Calon Arang) tidak mempunyai pacar, dia menangis kepada ibunya akhirnya Calon Arang marah dan mengancam orang-orang Desa Girah akan melumatkan orang-orang Desa Girah dan menantang Patih Narutama sebagai patih desa itu, tapi Patih Narutama kalah”.

“Kehadiran Retno Manggali tidak diterima oleh Masyarakat Desa Girah, akhirnya muncul tari kecak dan semua lari karena kecak itu adalah setan. Kemudian Retno Manggali muncul dengan menangis dan melaporkan kepada ibunya bahwa orang-orang itu yang mengejek Retno Manggali sebagai anak dukun teluh. Mendengar perkataan anaknya, Calon Arang marah mengeluarkan ajiannya dengan menebar bunga ke arah Masyarakat Girah dan akhirnya Masyarakat Girah mati semua”.

IMG-20170703-WA0004 IMG-20170703-WA0005

“Kemudian muncullah Bharada. Bharada terkejut melihat warga Girah banyak yang meninggal dunia. Akhirnya Bharada menantang Calon Arang dan terjadilah perdebatan. Tapi Calon Arang tidak tahu kalau kitab pusakanya telah diambil oleh anaknya yang benama Empu Bahula”.

“Calon Arang dan Empu Bharada bertengkar, Calon Arang kalah dengan keris miliknya sendiri. Setelah Calon Arang mati, Empu Bharada memohon kepada Sang Maha Kuasa agar Masyarakat Girah yang sudah mati dihidupkan kembali”.

“Kejahatan tetaplah kejahatan. Kebatilan tetaplah kebatilan, bagaimanapun kuatnya sebuah kejahatan dan kebatilan niscaya akan tetap bisa dilumpuhkan oleh keperkasaan sebuah kebenaran”, pungkas Evan Koeswantoro mengakhiri ceritanya.

IMG-20170703-WA0003 IMG-20170703-WA0012

Setelah pementasan teater selesai, dilanjutkan kembali dengan Tembang Macapat yang dipimpin oleh Ki Wito untuk melestarikan Budaya Adi Luhung Bangsa Indonesia.

Sebelum dimulainya pagelaran wayang kulit diawali dengan sambutan-sambutan dari Ketua Panitia, Ketua LPPBN dan Kepala Wilayah Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar mewaliki Bupati Blitar, yang tidak bisa hadir karena ada acara yang tidak bisa ditinggalkan.

Dalam sambutannya, Drs. Hatta Mahfur Thoyib, M.Si selaku Camat Nglegok menyampaikan, “Kirab Tumpeng Agung Nusantara Gotong Royong dan Pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan Lakon Babat Wonomarto ini merupakan rangkaian acara Memperingati Hari Jadi Candi Penataran ke-820 semoga membawa berkah. Semoga tahun depan event agenda acara bisa sinkron dengan agenda pariwisata sehingga acara bisa terlaksana lebih khidmad dan lebih meriah lagi”.

IMG-20170703-WA0007 IMG-20170703-WA0006

Dilanjutkan dengan penyerahan gunungan dan tokoh wayang Brotoseno oleh Drs.Hatta Mahfur Thoyib, M.Si. (camat Nglegok) dan Ki Satrio Wijoyo Kusumo (Perwakilan LPPBN) kepada Ki Dalang Romo Lukmin dan Ki Dalang Muji Carito, sebagai tanda dimulainya Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk Dengan Lakon “Babat Wono Marto”.

Saat dikonfirmasi Awak Beritamadani.co.id, Ki Dalang Romo Lukmin menyampaikan, “Sinopsis pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Babat Wono Marto ini mulai dari Brotoseno atau segenap Pandawa 5 adalah yang punya hak waris atas Negara Hastina. Kalau Kurawa hanya saudara sepupu dari yang punya hak waris. Tapi karena liciknya Patih Sengkuni dan Kuru Pati (Doryudana) yang amat serakah, Pandawa diperlakukan dengan kasar, curang dan tidak adil. Akhirnya Pandawa pergi melanglang buana kemana saja dan juga ikut kakeknya Sang Pandita Suci (Begawan) Abiyasa”.

“Prabu Matswopati (kakek Pandawa) mendengar nasib Pandawa yang selalu diperbudak dan disia-sia oleh Kurawa. Kemudian Prabu Matswopati memanggil Brotoseno agar datang ke negaranya dan akan diberi sebagian wilayah negaranya yang disebut Bumi Wono Marto (alas mrentani). Brotoseno disuruh mbabat (membuka lahan baru, red) untuk dijadikan negara tempat Pandawa, dengan jerih payahya dibabat untuk dijadikan Negara Amarta (Ngamarto)”.

IMG-20170703-WA0010 IMG-20170703-WA0002

“Bumi Wono Marto (alas mrentani) kelihatannya hutan tapi sebenarnya adalah negara besar yaitu negara Bangsa Asura (jin, setan, bekasakan, dll). Raja dari jin itu adalah Prabu Jin Yudhistira. Pada saat babat alas mrentani, Brotoseno dibantu Arimbi tapi setelahnya Arimbi minta dinikahi Brotoseno. Sedangkan Harjuno mendapat bantuan dari Dewi Asmorowati yang juga minta dinikahi oleh Harjuna. Akhirnya terwujudlah Negara Amarta”, pungkas Ki Dalang Romo Lukmin mengakhiri ceritanya.

Warga sekitar Kecamatan Nglegok sudah memadati Area Candi Penataran sejak awal dimulainya pementasan teater Calon Arang sampai dengan selesainya pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Mereka tetap setia mengikuti acara demi acara yang berlangsung malam itu.

Sampai jumpa lagi di event yang diselenggarakan oleh Lembaga Pelindung dan Pelestari Budaya Nusantara selanjutnya. Mari kita bersama-sama senantiasa Melestarikan Budaya Adi Luhung Bangsa Indonesia. (Widya-Dave)

Share This:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL