Kediri, www.beritamadani.co.id – Ritual malam 1 Suro di Desa Menang Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, ditandai dengan hujan deras. Ritual dimulai dengan digelarnya pertunjukan Wayang Kulit di Balai Desa Menang, dilanjutkan  ritual sesuci di Sendang Tirto Kamandanu, dan Petilasan Joyoboyo. Ritual tersebut dimulai pada dini hari pukul 00.00 WIB hingga menjelang fajar menyingsing.

Acara dilanjutkan Kirab Agung mulai start pukul 09.00 WIB, dari Balai Desa Menang, menuju Petilasan Joyoboyo, dan Finish di Sendang Tirto Kamandanu.

Dalam pantauan awak media  www.beritamadani.co.id , peserta datang dari banyak wilayah se-Nusantata, dengan ageman khas daerah masing-masing , membaur dengan masyarakat Desa Menang di Sendang Tirto Kamandanu, yang merupakan area ritual budaya yang diayomi secara khusus Panjenengan Dalem Engkang Sinuwun Kanjeng Sultan Ngayogyokarto Hadiningrat, lewat Yayasan Honggo Dento.

“Ini memang wilayah wewengkon Keraton Yogyakarta, dalam konteks Budaya dan Ritualnya, maka, Panjenengan semua dapat melihat langsung dan merasakan ciri khas budaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dari mulai prosesi uborampe,  ageman, tuwin pambiworo, ugi lantunan Gending Jawi, semua bernuansakan warisan Budaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,”ungkap Chatarina Etty, S.H.,M.Pd., perwakilan Pengurus Yayasan Honggo Dento yang berpusat di Yogyakarta, saat dikonfirmasi disela pelaksanaan Kirab Suro Agung di Sendang Tirto Kamandanu.

Keterkaitannya dengan pelaksana penyelenggara adalah satuan  Panitia yang dipimpin Ibu Kepala Desa Menang ?

“Memang Yayasan Honggo Dento yang mengawali tradisi ini sejak tahun 60 an, tapi sejak tahun 80 an sudah diserahkan Pelaksanaannya kepada Pihak Pemerintah Kab. Kediri, yang akhirnya Pemda menunjuk Pemerintah Desa Menang, Kec Pagu, sebagai pemilik wilayah satuan desa adat ala Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan kami selalu datang membimbing, mendampingi terutama dalam hal menjaga dan nguri-uri adat Keraton. Jangan sampai melanggar patrab Ngayogyakarta, dan terus bisa dikembangkan sebagai ajaran warisan leluhur kita yang harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya oleh semua pihak,” ujar Nyi Chatarina Etty menjelaskan.

“Kami sebagai Kepala Desa memegang amanah ini bersama MUSPIDA dan didukung sepenuhnya oleh masyarakat, yang panjenengan semua bisa melihat langsung,” ungkap Kades Desa Menang, Nyi Linda  Endrawati, yang didampingi oleh Ibu Camat Pagu, Ibu Nuning Zahro, S.STP. Tiga Srikandi titisan Dewi Kilisuci tersebut nampak serasi dan kompak dlm wawancara kemarin.

 Apakah dibuka ruang bersama untuk seluruh stakeholder yang terkait dalam pelaksanaan UU Pemajuan Kebudayaan kita, untuk turut serta membantu kewujudkannya?

“Iya, kami menerima dan membuka diri,” jawab mereka bertiga hampir bersamaan.

Kirab Suro Agung di Sendang Tirto Kamandanu, yang di mulai sejak 09.00 WIB dan berakhir 12.00 WIB  tersebut, memang berjalan tertib sakral ala Keraton Ngayogyakarta. Diikuti Perangkat Desa Menang, MUSPIDA Kab. Kediri, Perwakilan Yayassn Honggo Dento Pusat, Lembaga kebudayaan: LP2BN, Paguyuban Garuda Kadiri,  Tokoh-tokoh Budaya Jawa, dan perwakilan yayassn Kebangkitan Nusantara Ratu Adil sebagai team peninjau. (Ki Ageng Jontor Siswanto, Nyi Widyana Rahayu M, Ki Condro Nurcahyo)

Previous post <strong>Sependapat dengan Presiden, Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat Sebut Opini WTP adalah Kewajiban</strong>
Next post <strong>Evaluasi Triwulan Ketiga, Kinerja Wahyu Hidayat Pimpin Kota Malang Tuai Apresiasi Luar Biasa</strong>