Tawur Agung Kasanga

IMG-20190309-WA0024 IMG-20190309-WA0021

Kediri, Beritamadani.co.id – Dalam rangka memperingati Hari Raya Nyepi (Tahun Baru Caka 1941), Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Kediri mengadakan acara Tawur Agung Kasanga, yang dipusatkan di perempatan garuda, Pelem Pare Kabupaten Kediri. Acara ini dihadiri oleh Kapolres, Ketua PHDI, Forkopimcam Kecamatan Pare, Bimas Hindu Kementerian Agama Kabupaten Kediri dan warga umat Hindu di Kabupaten Kediri.

Tema Nyepi tahun ini, “Melalui Catur Brata Penyepian kita sukseskan Pemilu 2019 agar berjalan dengan damai, aman, dari kita untuk kita semua”

Ir. I Made Adi Jaya selaku Ketua Panitia Peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1941 waktu ditemui awak www.Beritamadani.co.id menuturkan,“Kami memilih perempatan ini filosofinya perempatan agung, karena perempatan agung itu hal-hal yang berdampak positif. Rangkaian Hari Nyepi diawali dengan acara Melasti. Melasti itu suatu bentuk menyucikan buana alit (diri sendiri, peralatan pura) dengan air suci tirta amerta dilanjut dengan Tawur Agung Kasanga dan sorenya dimasing-masing tempat diadakan Pangrupukan. Pangrupukan itu filosofinya mengharmonisasikan alam dari hal-hal negatif menjadi netral”.

IMG-20190309-WA0025 IMG-20190309-WA0020

“Dalam Catur Brata Penyepian ada 4 hal yang harus diperhatikan, yaitu: 1.Tidak bepergian, 2.Tidak mengikuti kesenangan, 3.Puasa (tidak makan minum), 4.Tidak melakukan bunyi-bunyian”, pungkas I Made Adi Jaya.

Ditempat terpisah awak www.Beritamadani.co.id menemui Murtaji selaku staf Kementerian Agama, Pengawas Pendidikan Agama Hindu Kabupaten Kediri. Murtaji menyampaikan, “Tawur Agung Kasanga merupakan suatu rangkaian Hari Raya Nyepi dimana pada siang ini Umat Hindu mengarak Ogoh-Ogoh, yaitu merupakan lambang keangkara murkaan,  keserakahan, lambang kala dan merupakan bagian alam yang berbentuk raksasa yang nantinya harus dihapuskan dan dibakar. Maka dari itu dengan maksud tujuan membakar sifat-sifat keraksasaan sehingga diakhir tahun ini, kesifat raksasaan kita bakar, sehingga dalam melakukan catur brata penyepian sifat-sifat raksasa itu sudah hilang”.

“Dalam melakukan meditasi, menyucikan diri lahir-batin, kita mengharapkan kesucian sehingga suci lahir-batin buana alit (raga manusia), buana agung alam semesta. Buana alit dan buana agung harus sinkron. Kalau tidak sinkron akan menimbulkan permasalahan. Harapan kedepan Umat Hindu, Indonesia tetap damai sejahtera”, pungkas Murtaji.

IMG-20190309-WA0022 IMG-20190309-WA0019

Kadek Astrawan Ketua Parisada Hindu Dharma Kabupaten Kediri dalam sambutannya menjelaskan, “Atas dasar Sang Widi Wasa kita dapat melaksanakan rangkaian upacara Nyepi Tahun Baru Caka 1941, sesuai dengan ajaran kami. Saya tetap memuja Sang Yang Widi Tuhan hanya satu tidak ada lainnya. Selain memuja Tuhan, kami menjaga hubungan menghormati dengan sesama manusia apapun agamanya. Kami juga menghormati para makluk butakala, makluk yang tidak terlihat yang juga termasuk ciptaan Tuhan. Kami juga memberikan penghormatan tetapi tidak menyembah”.

“Hari ini kami melaksanakan Upacara Tawur Kasanga merupakan upacara memayu hayuning bawono mengharmonisasikan bumi. mengapa memilih perempatan karena kami umat Hindhu menyakini bahwa di perempatan ini adalah tempat ruang dan waktu tempat aura positif dan negatif bertemu, akan disterilkan dengan tujuan besuk akan melaksanakan catur brata penyepian supaya bisa berjalan dengan baik tidak diganggu sifat-sifat buruk”, pungkas Astrawan mengakhiri sambutannya.

Setelah ritual upacara selesai ke 16 ogoh-ogoh diarak keliling memutari perempatan garuda sebanyak 3 kali melawan arah jarum jam, kemudian ogoh-ogoh dibawa kembali ke masing-masing wilayah untuk dibakar. (Efendi – Pitono)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *