ABK Sharing#6, Anak Tunadaksa

img-20161007-wa0075img-20161007-wa0073

Malang, Beritamadani.co.id – Sahabat Madani, setelah kita belajar ABK Tunarungu pada minggu kemarin, pada kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang anak dengan gangguan gerak atau yang disebut tunadaksa. Tunadaksa yaitu  anak yang tidak atau kurang dapat menggunakan tangan dan, atau kakinya untuk bergerak.  Dimana anak mengalami gangguan gerak akibat kelumpuhan, tidak lengkap anggota badan, kelainan bentuk, fungsi tubuh atau anggota gerak  dan anak akan mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, sendi, otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan khusus.

 Karakteristik khusus :

  • Anggota gerak tubuh kaku / lemah / lumpuh.
  • Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali).
  • Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa.
  • Terdapat cacat pada alat gerak.
  • Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam.
  • Kesulitan pada saat berdiri / berjalan / duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal.
  • Sulit untuk berpindah dari satu posisi ke posisi lain
  • Sulit meraih benda di tempat tinggi atau rendah
  • Gerakan tubuh kaku atau layu
  • Sering terjatuh
  • Penderita Cerebral Palsy dan penderita kekakuan otot bicara akan mengalami gangguan bicara

Ada 2 kategori cacat tubuh, yaitu cacat anggota tubuh karena penyakit polio dan cacat tubuh karena kerusakan otak yang mngakibatkan ketidakmampuan gerak (Cerebral Palsy). Pada dasarnya cerebral Palsy merupakan gangguan koordinasi otot. Ototnya sendiri sebenarnya normal, tetapi otak mengalami gangguan mengirimkan sinyal-sinyal yang penting untuk memerintah otot-otot untuk memendekkan atau memanjangkan atau harus meregangkan (Puseschel,1989). Anak-anak semacam ini masih dapat belajar dengan menggunakan semua indranya. Tingkat intelektualnya umumnya normal bahkan ada yang sedikit diatas normal. Namun, kerusakan pada otak mereka akanmengalami kesulitan jika harus melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan koordinasi motorik dan atau keterampilan fisik, seperti olahraga, bermain, menulis, melakukan mobilitas dan sebagainya.

Apa yang perlu dilakukan orangtua dan keluarga bila anak menunjukkan ciri-ciri atau tanda-tanda di atas?. Yang perlu kita lakukan adalah:

  1. Membawa anak ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk diperiksa tenaga medis secara rutin, karena jika tidak maka tubuh anak bisa bertambah kecacatannya (bengkok, mengecil, kaku).
  2. Menindaklanjuti hasil pemeriksaan dari tenaga medis dengan mengikuti petunjuk dan saran yang diberikan.
  3. Memasukkan anak ke sekolah yang sesuai dan kembangkan potensi yang dimiliki anak. Saat ini banyak anak tunadaksa yang dapat berprestasi berhasil seperti anak lain sebayanya.
  4. Memerlukan latihan rutin, dan menggunakan alat bantu untuk mencegah bertambahnya kecacatan dan memudahkan melakukan kegiatan sehari-hari.

Cara membantunya :

  • Cara membantu pengguna kruk untuk berjalan : biarkan mereka bertumpu pada lengan atau bahu kita, jangan digandeng.
  • Berikan sarana bidang miring (ramp) bagi pengguna kursi roda, atau bantu mendorong kursi rodanya
  • Bagi penderita gangguan bicara, bicara singkat dan jelas
  • Tawarkan tempat duduk dekat pintu
  • Sediakan toilet yang cukup luas atau pintu toilet ditarik keluar
  • Pasang railing sepanjang dinding
  • Untuk bangunan bertingkat sediakan lift. Atau pindahkan kegiatan ke lantai bawah

Program pengembangan diri bagi anak gangguan gerak / fisik (tunadaksa) dalam lingkup pendidikan tidak bisa lepas dari keterampilan diri dan gerak dalam rangka untuk ADL (Activity of Daily Living). Pengembangan diri dan gerak bagi peserta didik tunadaksa pelaksanaannya meliputi activty of daily living (ADL) in Bad dan ADL out Bad.

Ruang lingkup pengembangan diri dan gerak bagi peserta didik Tunadaksa adalah sebagai berikut:

a.Pengembangan Diri

Pengembangan diri peserta didik tunadaksa meliputi:

1) Menolong diri sendiri, (kebersihan, berpakaian)

2) Merawat, dan merias diri sendiri

3) Mengurus diri sendiri

4) Berkomunikasi dengan orang lain

5) Bersosialisasi dalam kehidupan di lingkungannya

6) Mengembangkan keterampilan hidup sehari-hari

7) menyelamatkan diri dari bahaya.

b.Pengembangan Gerak

Pengembangan gerak peserta didik tunadaksa meliputi:

1) Melakukan gerak kontrol kepala, melakukan gerak anggota tubuh ( tangan, kaki, badan).

2) Melakukan gerak pernapasan,

3) Melakukan gerak pindah diri,

4) Melakukan gerak koordinasi (motorik kasar dan motorik halus), koordinasi mata dan tangan, koordinasi mata dan kaki),

5) Menggerakkan alat bantu gerak, (menggunakan alat bantu yang dipakai, alat bantu gerak, dan alat bantu yang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

Ruang lingkup program pengembangan diri dan gerak sebagaimana diuraikan diatas, membutuhkan waktu yang lama, sehingga implementasinya dilakukan dengan cara :

1.Reguler, yaitu program dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah disusun.

2.Terpadu, yaitu program dilaksanakan dengan cara diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang lain.

3.Prioritas, yaitu program dilaksanakan secara khusus kepada peserta didik yang mengalami masalah tertentu dan membutuhkan penanganan secara cepat.

tunadaksa1tunadaksa2

Anak berkebutuhan khusus mempunyai hak yang sama dengan anak lain dan dapat hidup mandiri, berprestasi sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki. Untuk itu, orangtua, keluarga, dan masyarakat wajib bertanggungjawab memenuhi hak-hak anak dalam segala aspek kehidupan, seperti bersosialisasi di lingkungan, berekreasi, dan berkegiatan lain yang bertujuan memperkenalkan anak berkebutuhan khusus dengan kehidupan di luar rumah.

Profil Siswa:

1.Farid Nuryasin. Ananda saat ini berada dikelas 2 Sekolah dasar negeri yang menjalankan program pendidikan inklusif di kota Batu. Ananda termasuk dalam siswa yang mengalami gangguan gerak dikarena pada saat bayi hingga saat ini mengalami obesitas/kenaikan berat badan diatas normal pada usia perkembangannya. Diusianya yang menginjak 8 tahun ini berat badan ananda mencapai  hampir dari 40 Kg. Dikarenakan gangguan tersebut ananda mengalami keterlambatan dalam berjalan serta kesulitan dalam berbicara secara jelas dan dalam menulis pun masih lambat. Tetapi semangatnya untuk bisa bersekolah dengan jarak yang jauh sekalipun sangat besar. Setiap menit diproses belajarnya sangat ananda nikmati, semua teman-teman satu kelasnya sangat menyayangi ananda. Begitu pula kasih sayang orang tuanya yang sangat besar, selalu mendukung dan memberi semangat yang positif. Hobi ananda untuk makan dengan porsi yang besar tidak terhindarkan tetapi semenjak ananda bersekolah di SD porsi untuk makannya sedikit berkurang karena ananda termotivasi teman-temannya yang lain dapat berlarian dan ananda menginginkan hal tersebut.

2.Mufidul Ummam Al-Karim. Ananda saat ini berada dikelas 5 Sekolah dasar negeri yang menjalankan program pendidikan inklusif di kota Batu. Ananda termasuk dalam siswa Tunadaksa dikarena pada saat proses kelahirannya prematur dimana perkembangan secara fisiknya belum sempurna. Hingga saat ini ananda masih belum dapat berjalan dan menggunakan kursi roda. Dikarenakan gangguan tersebut ananda mengalami sedikit kesulitan dalam berbicara secara jelas dan dalam menulis lambat. Secara akademik ananda tidak mengalami masalah kerena masuk dalam kategori normal di usianya hanya memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugasnya dibanding teman yang lain. Tetapi semangatnya untuk bisa bersekolah sangat besar. Ananda senang sekali bercerita tentang pengalaman-pengalamannya dirumah, disekolah ataupun saat ananda bepergian bersama keluarganya. Kasih sayang orang tua dan orang-orang yang berada didekatnya sangat membantu rasa kepercayaan dirinya. Ananda memiliki hobi memainkan alat musik gendangnya dan tidak jarang menjadi pengiring musik untuk shalawatan disaat pengajian atau untuk mengisi acara-acara di desanya.

Semoga kisah dari kedua profil ananda-ananda tersebut dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat luas bahwa keberadaan mereka bukanlah beban untuk kita, menyayangi mereka adalah wajib dan memberi ruang untuk berprestasi dan mengembangkan bakat yang dimiliki ABK adalah harus. Marilah pahami kekurangan mereka sebagai kelebihan yang Tuhan berikan. Salam “Peduli ABK”.

Penulis: Firdiani Yuliana, S.Psi

Daftar Pustaka:

  1. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia “ Panduan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Bagi Pendamping (Orang Tua, Keluarga, Dan Masyarakat). Jakarta, 2013.
  2. Mangunsong, Frieda (2009). Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. jilid Ke satu. Jakarta: LPSP 3 Fakultas Psikologi UI.
  3. Munawir Yusuf,dkk (2003). Pendidikan bagi anak dengan problema belajar. Tiga Serangkai.

 202 total views,  4 views today

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL