Asal-usul Dusun Genuk Watu Desa Nanggungan Kayen Kidul Kabupaten Kediri

dsc02130 dsc02171

Kediri, Beritamadani.co.id – Wilayah Kabupaten Kediri mempunyai banyak peninggalan sejarah, salah satunya berada di Desa Nanggungan, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Desa Nanggungan terdiri dari lima Dusun yaitu: Kereweng, Genuk Watu, Santren, Ngandong dan Sumur. Di desa ini ada peninggalan sejarah berupa Genuk Watu, yang perlu diperhatikan dan dilestarikan.

Menurut pemaparan cerita yang disampaikan oleh Agus Suparianto, Plt. Sekdes. Desa Nanggungan, “Konon menurut cerita itu dulu pada saat Pemerintahan Adipati Cakraningrat, sekitar Tahun 1825 – 1830, ganjarannya (gajinya,red) bukan berupa uang tapi berupa ganjaran sawah. Ganjaran sawah, dimana tempat itu berada, dinamakan sesuai dengan kenyataannya. Kebetulan disini ini kalau waktu Adipati (Bupati) Cakraningrat mengunjungi sawah sini, disediakan minuman berupa air di tempayan yang berupa genuk dari batu. Makanya Dusunnya dinamakan Genuk Watu”.

“Di daerah situ arah ke barat laut ada 7 rumah, kebetulan rumah demang itu disana, namanya Demang Kabul, Demang pertama disini. Terus Mbah Kabul bersama 7 rumah itu, oleh Adipati diminta, daripada menyendiri disana dikumpulkan menjadi satu ke Genuk Watu (ke kampung,red). Tapi ada bebononya (permintaannya,red) “Saya mau dipindah ke kampung namun desanya (kademangannya,red) tidak berbunyi Genuk Watu, karena rumah asalnya dari ketanggungan, akhirnya nama desa menjadi Desa Nanggungan””.

“Sejak zaman Mbah Demang dulu sampai sekarang disitu tetap menjadi tanah ganjaran kasun, dulu menjadi tanah ganjaran Adipati. Genuk Watu itu dari dulu tempatnya tetap disitu. Walaupun yang kelihatan hanya sedikit (kecil) namun jika digali itu dalam”.

“Harapannya kalau memang itu peninggalan cagar budaya mohon diperhatikan, paling tidak dipugar supaya tetap lestari”, pungkas Agus Suparianto.

dsc02168 dsc02167

Kemudian Awak Beritamadani.co.id diantar ke lokasi tempat benda sejarah yang berupa Genuk Watu, yang berada di bawah pohon beringin di tengah areal persawahan, oleh Sugiantono, Kasun Genuk Watu.

Sugiantono memberikan sedikit penjelasan, “Kalau hujan lebat dan genuknya kemasukan air banyak, konon katanya masyarakat Dusun Genuk Watu, banyak yang sakit. Masyarakat Dusun Genuk Watu punya beberapa sirik’an (pantangan,red) antara lain masyarakat tidak mau memelihara Jaran Plongko (Kuda yang kakinya semua putih seperti memakai kaos kaki,red) dan Sapi Pancal Panggung (Sapi yang kakinya bagian lutut ke bawah berwarna putih,red), pondasi rumah juga tidak menggunakan batu”.

Dari peninggalan sejarah yang merupakan produk kearifan lokal dari masyarakat, yang pada akhirnya wilayah pedusunan tersebut dinamakan Dusun Genuk Watu, mengandung maksud bahwa tradisi masyarakat yang baik akhirnya dihargai menjadi sebuah nama wilayah dan dikenal sampai dengan saat ini. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama ikut serta dalam melestarikan peninggalan sejarah dan budaya adi luhung bangsa, salah satunya yang berada di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. (Widya)

Share This:

You may also like...

2 Responses

  1. Sudaryanto says:

    Ceritanya singkat & padat,semoga bermanfaat bagi warga genuk watu .

    • madani says:

      Dear sahabat pembaca Madani,
      Terimakasih atas komentar positif untuk kami, semoga bermanfaat untuk adik-adik generasi muda Warga Genuk Watu dan semua pembaca setia madani.
      Editor01,www.beritamadani.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL