Piuning Ke Tempat-Tempat Suci Menandai Awal Di Mulainya Prosesi Tumpeng Agung Nusantara 5

IMG-20160620-WA0063 IMG-20160620-WA0070

Blitar, Beritamadani.co.id – Sebanyak 50 Peserta, pada Hari Minggu 19/6/16, Pengurus atau Pinisepuh LP2BN dari 3 Kota yang merupakan Kota  Sejarah Masa Keemasan Kejayaan Nusantara yaitu Kota Blitar, Kediri, Tulungagung, mengendarai 2 unit kendaraan Elf bantuan Mobil Dinas DPRD Kabupaten Blitar dan 2 mobil pribadi, start Pukul 09.00 Wib dari Kantor Inkoparda Kabupaten Blitar, menuju titik-titik pusat spiritual di Blitar. Yakni Petilasan Rambut Monte (Tempat yang diyakini menjadi  Pesanggrahan Mpu Baradah dan Mbok Ratu Kuning, di masa hidupnya, red), Candi  Sawentar (Tempat Pendarmaan Kanjeng Prabu Anusapati,  Putra pertama tiri Prabu Ken Arok, red), Candi Simping atau Sumberjati (Tempat pendarmaan Kanjeng Prabu Raden Wijaya, red), Candi Mleri ( Tempat pendarmaan Kanjeng Prabu Wisnu Wardana atau Ranggawuni, red), Candi Kalicilik (Tempat Pendarmaan Prabu Ken Arok, red), Candi Penataran (Candi Negara, Kerajaan Majapahit, red), dan Makam Bung Karno (tempat di makamkannya, Ir. Sukarno, sang Proklamator, red).

IMG-20160620-WA0015 IMG-20160620-WA0054

“Kita tadi start Pukul 09.00 Wib, sampai di Makam Bung Karno sudah Pukul 20.30 Wib (malam). Jadi untuk 2 tempat penting lain di Blitar yakni Makam Pangeranan dan Candi Gambar Wetan, ditunda besok. Termasuk yang di Tulungagung Candi Gayatri (Tempat pendarmaan, Raja Putri Ratnya Paramita Gayatri, istri ke 4 Raden Wijaya, red)  dan di Kediri di Sendang Tirto Kamandanu ( Tempat Pamoksan Kanjeng Prabu Sri Aji Jayabaya, red) dll, juga ditunda besok oleh masing2 perwakilan wilayah Pengurus Pusat LP2BN di 3 kota tersebut. Karena waktunya sudah malam, capek, di Bulan Ramadhan. Mana cuacanya sejak pagi buruk sekali. Sejak di Rambut Monte tadi hujan. Padahal Tempat-tempat yang kita sowani tadi rata-rata tidak beratap sehingga peserta basah kuyup, malah ada yang masuk angin “, jelas Ki M. Taufik, selaku Ketua Panitia yang juga mantan Ketua DPRD Kabupaten Blitar tersebut kepada Awak Beritamadani.co.id.

Cuaca dingin, hujan, lapar dan haus karena bertepatan di Bulan Puasa Ramadhan, tidak mengurangi semangat para pinisepuh laki-perempuan yang rata-rata muslim tersebut. Lumayan yang non Muslim atau yang sedang berhalaangan tidak puasa mendapatkan jatah makan siang dari manajemen Kopi Bathok Gathuk, pimpinan Mr. Dian Brew di Kanigoro Blitar, tepat makan siang Jam 13.00 Wib, sementara yang puasa di bungkuskan untuk menu buka puasa.

IMG-20160620-WA0072 IMG-20160620-WA0067

“Luar biasa!, Ini pengalaman perjalanan spiritual yang luar biasa”. “Bersama Para Guru Besar Spiritual Nusantara, walau dengan keyakinan agama berbeda-beda, cara berdoa dengan bahasa yang berbeda-beda, tapi luar biasa, rukun damai terasa berada diantara beliau2 ini”. “Salut mas, maju terus LP2BN, demi Keutuhan dan Kejayaan Pelangi Nusantara”. Ungkap Bang Karim, Pemerhati Budaya Nusantara dari Kota Tulungagung yang Keturunan Timur Tengah itu. Sastra san sekerta, mantram Doa pendekatan Hindu Jawa yang di mantramkan Ki Romo Lukmin, koordinator Pemangku Hindu Darma, PHDI Blitar Raya yang juga berprofesi sebagai Dalang Ruwatan tersebut. Lantunan Sastra yang indah dari Bahasa Jawa Kuno dan Sansekerta  yang diucapkan oleh Beliau Pinisepuh Pelaku Spiritual, di tengah malam yang gelap, udara dingin dan kabut menyelimuti Altar Suci Rabut Palah, adalah kalimat sakral yang seperti mampu menghadirkan para Ruh Suci memberi restu perilaku budi yang santun ajaran leluhur yang senantiasa menjaga harmoni alam, dhohir bathin, bumi langit, posisi meditasi, samadi menghadap sang Hyang Widi Wase, Allah, Tuhan, Seru Sekalian Alam. Wajar jika membuat bulu kuduk berdiri, tubuh terasa terangkat, ringan, damai dalam keharuan kemaha sakralan. Suci  diri  sejati.

IMG-20160620-WA0050IMG-20160620-WA0024

Di tempat terpisah, Ki Aris Sugito, Ketua Umum LP2BN menjelaskan kepada Awak Beritamadani co.id: ” Piuning adalah wisata spiritual pendekatan Jawa-Nusantara yg mengajarkan kita kepada konsep Manunggaling Kawula Gusti dalam kontek sebagai Manusia Nusantara. Apapun Agama atau Aliran Kepercayaan, Nusantara punya Konsep Bhinneka Tunggal Ika – Tan Hanna Dharma Mangrwa. Walaupun berbeda-beda cara pandang kita menghadap  Tuhan, sejatinya sama. Satu tunggal tidak menduwa. Artinya Tuhan itu ya Satu atau Esa.

Inilah kehebatan di tanah air kita yang penuh warna ini. Pelangi Nusantara. Mengajarkan keindahan yang sebenarnya adalah rasa damai dalam bersama dihadapan Tuhan. Untuk itu mari kita terus menjaga kedamaian, keharmonisan ini, dengan mengedepankan kebersamaan walaupun kita merasa tidak sama. Demi tetap jayanya negri tercinta ini, demi kembali jayanya Jaman Keemasan Majapahit dalam konteks barunya di NKRI ini. Hanya dengan satu falsafah. Kembali ke Pancasila dan melaksanakan UUD 45  dalam kehidupan nyata ! “. Demikian pernyataan Ki Aris Sugito, menutup perbincangannya dengan Awak Beritamadani.co.id. Dan malam terasa melambat, udara dingin menyiratkan kerinduan kepada Kekasih Sejati, Sang Maha Tunggal yang selalu punya cara menyelamatkan hamba-hamba yang mencintai Nya, walau sang hamba punya cara yang berbeda-beda. (Wasis)

 21 total views,  1 views today

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL