Jamasan Di Patirtan Penataran Merupakan Tradisi Pesucian Diri Menjelang Hajatan Besar

IMG-20160622-WA0004 IMG-20160622-WA0002

Blitar, Beritamadani.co.id, 22/6/16 – Sejak ribuan tahun lalu, Leluhur Nusantara punya cara untuk bersuci jiwa-raga, menebus segala dosa sebelum menghadap Gusti Kang Murbeng Dumadi, seperti Acara Jamasan di Altar Suci Candi Palah, Blitar, Jawa Timur (Candi Penataran, red).

“Air dari sumber mata air itu semua suci”, Jelas Rama Lukmin, Koordinator Pemangku PHDI Blitar Raya, kepada Awak Beritamadani.co.id. “Tapi air itu disebut Tirta ketika setelah diambil dari sumbernya lalu dirituali, dibacakan mantra suci”. “Dan yang di pake Jamasan Untuk Panitia  Kirap Tumpeng Agung Nusantara ini adalah Kumpulan Tirta dari tempat-tempat suci ,di tempat Piuning kemarin”, tambah Rama Lukmin.

IMG-20160622-WA0010

Sebagaimana diketahui pada Tanggal 19 Juni 2016 kemarin, Pengurus LP2BN yang tergabung dalam Kepanitiaan Bersama Kirab Tumpeng Agung Nusantara, telah melaksanakan Piuning ke Rambut Monte, Candi Sawentar,  Candi Simping, Candi Mleri, Candi Kali Cilik, Candi Penataran, Makam Bung Karno dan sekaligus mengambil air suci yang lalu dikumpulkan dengan air di Patirtan Penataran.

Untuk kemudian diproses ritual gabungan menjadi Tirta untuk sarana Jamasan (Mandi jinabah atau mandi besar,red) Pengurus LP2BN atau Panitia Kirab Tumpeng Agung Nusantara, kemarin siang,  22 Juni 2016, di kolam selatan candi induk di Komplek Candi Palah Penataran.

Seluruh pengurus dan panitia laki-laki, perempuan, mengikuti ritual Jamasan yang dipimpin Pinisepuh Ki Suripto dan Rama Lukmin dengan khidmat dan khusyu’.

IMG-20160622-WA0006IMG-20160622-WA0007

“Byaaar padhang, resik njaba resik njero, banyu sanga kanggo ngilangi kabeh sengkala para kanca”. “Banyu suci ingkang sampun dipun pangestoni Ruh Suci kagem reruwat ingsun kanthi niat reresik sedaya reridu lair batin jiwa-raga” . Demikian sebagian mantra yang dibaca pinisepuh dalam prosesi Jamasan tersebut.

“Singgah-singgah kala singgah, pan suminggah durga kala sumingkir”. “Sing a ama sing a wulu sing suku sing a sirah, sing a tenggak klawan kala sing a buntut, padha sira suminggaho”. “Muliyo mring asal neki”. “Awya nggoda klawan ngrusak, jer ingsun duta gawe tentrem bumi- dumadi ku kama agung, ning neng cipta pangeran, datulaya tawang-taeang kang asalku, enggal sira singgaho”. “Dimen tan kabendu Gusti.” Tembang Mocopat Pangkur Singgah-Singgah, mengiringi mengalirnya Tirta suci menghapus segala kotoran jiwa-raga. Mengangkat derajad manusia, kembali setara dengan sifat suci yang maha suci. (Wasis)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL