Kirab Tumpeng Agung Nuswantara Gotong-Royong ke VII

IMG-20180713-WA0005 IMG-20180713-WA0009

Blitar, Beritamadani.co.id –  Lembaga Pelindung Pelestari Budaya Nusantara (LPPBN) mengadakan Kirab Tumpeng Agung Nuswantara Gotong-Royong ke VII dalam rangka Peringatan Peresmian Candi Palah Penataran ke-821, pada Hari Rabu, 11 Juli 2018, dengan tema “Canda Walaka Jalma Tumithah”.

Kirab diawali dengan ritual bedhol kirab di Situs Balekambang (terletak di perbatasan Desa Penataran dan Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar) menuju ke Candi Palah Penataran (Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar) dengan menempuh jarak kurang lebih 3 km. Setelah ritual bedhol kirab kemudian dilanjutkan dengan menata barisan kirab dengan urutan cucuk lampah, mbok ireng, tumpeng wadon, tumpeng lanang, bendera merah putih yang panjangnya 100 meter, burung garuda, tokoh-tokoh spiritual lintas agama, peserta kirab dari berbagai paguyuban kemudian paling belakang pasukan 1000 barong.

Sesampainya di pintu gerbang gapura Candi Palah Penataran, para peserta kirab menghaturkan penghormatan. Pemimpin bedhol kirab menyerahkan gunungan wayang kepada pemimpin upacara kirab Candi Palah Penataran. Selanjutnya semua peserta kirab memutari Candi Induk Palah Penataran kearah kanan sesuai dengan cara membaca relief candi sebanyak 3 kali. Bendera merah putih yang panjangnya 100 meter diikatkan mengitari Candi Induk Palah Penataran.

IMG-20180713-WA0010 IMG-20180713-WA0011

Kemudian para pinisepuh langsung naik ke lantai paling atas atau puncak candi untuk melakukan upacara ritual dengan waktu kurang lebih 35 menit di Puncak Candi Palah Penataran, mbok ireng menunggu di lantai dasar candi induk. Setelah selesai ritual di puncak candi, semua turun dan bergabung dengan para tamu undangan untuk melaksanakan acara seremonial.

Acara ini dihadiri oleh Bupati Blitar, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Kepala Kesbangpol Kabupaten Blitar, Muspika Kecamatan Nglegok, Tlasih 87 Mojokerto, Gardapaksi, Kujang Nusantara, Komunitas Barong Jatim, Scout rider, Pecalang, PHDI Blitar, Padepokan Jatidiri, Padepokan Jatiputih, Paguyuban Budi Luhur, Paguyuban Sangkanparaning Dumadi, Paguyuban Murtitomo Waskito Tunggal, Paguyuban Sabto Dharma, Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), tamu undangan dari Bali, Ternate, Pajajaran, Bogor, Purbalingga, Sukabumi, Surabaya, Kediri, Tulungagung, Ponorogo, Malang, Tuban, Warga Blitar dan sekitarnya.

Acara Seremonial diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan teks Pancasila, sambutan Ketua Panitia Pelaksana Kirab Tumpeng Agung Nuswantara Gotong- Royong ke VII. Dalam sambutannya Dian Prio Gunanto selaku Ketua Panitia menyampaikan, “Saya mewakili Panitia Kirab Tumpeng Agung Nuswantara memberi laporan bahwa kegiatan ini sukses, tidak terlepas dari dukungan-dukungan, do’a dan keterlibatan Pemerintah Daerah Kabupaten Blitar dan sanak kadang semuanya. Kegiatan ini terlaksana karena ada kekuatan yang sakti yaitu kekuatan gotong-royong dari kita semua. Kami mengucapkan terimakasih kepada warga masyarakat sekitar Candi Penataran atas kepeduliannya terhadap acara ini”.

IMG-20180713-WA0007 IMG-20180713-WA0006
Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua LPPBN. Dalam sambutannya Ki Aris Sugito menyampaikan, “Tahun ini kita mengambil Tema “Canda Walaka Jalma Tumithah”. Canda Walaka artinya bloko suto (terbuka atau apa adanya), Jalma Tumithah artinya manusia yang telah bertugas. Didalam budaya ada karakter bangsa. Itu cikal bakal yang disebut nasionalisme. Nasionalisme ada di dalam budaya. Bung Karno menyampaikan “Jas Merah” jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah”.

Setelah sambutan dari Ketua LPPBN dilanjutkan dengan sambutan dari Bupati Blitar. Dalam sambutannya, Drs. H. Rijanto, MM., selaku Bupati Blitar menyampaikan, “Kalau berbicara tentang Candi Penataran, kita sebagai Bangsa Indonesia khususnya Warga Blitar, Banggalah menjadi Warga Blitar. Blitar disamping Bumi Bung Karno, Bumi Laya Eka Tantra Adi Raja. Kita seperti ini karena ada kemerdekaan, ada pendiri bangsa, para pahlawan kemerdekaan yang begitu besar jasanya sampai diproklamirkan oleh Bung Karno pada 17 Agustus hingga saat ini kita bisa bernafas, bisa berpakaian dengan baik tentunya karena jasa para pahlawan”.

“Bumi Laya Eka Tantra Adi Raja, ikrar seperti itu karena banyak prasasti, banyak candi-candi yang ada di Blitar. Pada masa kejayaan Raja Kediri, Singosari maupun Majapahit. Banyak raja-raja yang masa itu perabuannya ada di Blitar. Misalnya Anusapati perabuannya di Candi Sawentar, Raja Ronggouni perabuannya di Candi Wleri, Raja Raden Wijaya pendiri Majapahit perabuannya di Candi Simping”, pungkas Bupati Blitar.

IMG-20180713-WA0003 IMG-20180713-WA0008

Setelah semua sambutan selesai dilanjutkan dengan Genduri / Selamatan Peringatan Peresmian Candi Palah Penataran ke-821, Do’a Budaya, kemudian diakhiri dengan Gembul Bujono dan Rebut Tumpeng Agung Nuswantara Gotong-Royong.

Saat dikonfirmasi Awak Beritamadani.co.id, Ki Aris Sugito “Kita memperingati peresmian Candi Palah Penataran yang dibangun oleh Prabu Srengga atau Prabu Kertajaya Raja Kediri yang terakhir. Inilah bentuk wujud budaya yang inti dari tujuan kita adalah membangun dan membangkitkan kembali moral-moral bangsa kita”.

“Bendera merah putih yang panjangnya 100 meter itu suatu simbol, merah itu lingga, putih itu yoni. Jadi simbol seorang bopo angkoso ibu pertiwi, simbol seorang bapak dan ibu. Dengan menghormati bendera merah putih sama halnya dengan kita menghormati bapak dan ibu kita. Dalam ilmu tata Negara, merah adalah berani, putih adalah suci. Namun dari segi spiritual itu adalah symbol lingga yoni. Maka kaitannya dengan Candi Penataran adalah sama yaitu simbolnya adalah lingga yoni”, pungkas Ki Aris Sugito.

IMG-20180713-WA0004 IMG-20180713-WA0002

Kirab Tumpeng Agung Nuswantara Gotong-Royong ini merupakan acara tahunan yang digelar oleh Lembaga Pelindung Pelestari Nusantara, sejak 2012. Pada tahun ini peserta kirab lebih banyak dari tahun sebelumnya, tidak kurang dari 2500 orang yang mengikuti acara kirab pada tahun ini. Ini menunjukkan bahwa generasi muda semakin peduli dalam upaya melestarikan budaya adi luhung Bangsa Indonesia. (Widya)

Share This:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL