Pagelaran Wayang Kulit Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940

IMG-20180314-WA0129 IMG-20180314-WA0127

Blitar, Beritamadani.co.id – Umat Hindu Kabupaten Blitar, yang tergabung dalam Parisada Hindu Dharma Indonesia, mengadakan Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk Dengan Lakon Dewa Ruci, dilaksanakan pada Hari Sabtu, 10 Maret 2018, di Pesisir Pantai Jolo Sutro yang berada di Desa Ringinrejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar.

Pagelaran wayang kulit ini merupakan rangkaian acara dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1940. Dihadiri oleh Ketua PHDI. Kabupaten Blitar, Sesepuh Agama Hindu Kabupaten Blitar, Pandita dari Kediri, Tokoh Lembaga Pelindung Pelestari Budaya Nusantara, Kasepuhan Kediri, Ketua Pondok Pesantren Tlasih ‘87 Mojokerto beserta rombongan, Warga Penghayat dan Warga Sekitar Pantai Jolo Sutro.

Saat dikonfirmasi Awak Beritamadani.co.id, Lestari selaku Ketua PHDI. Kabupaten Blitar, menyampaikan, “Khusus tahun ini, sebelum melaksanakan Upacara Melasti diadakan pagelaran wayang kulit sebagai wujud rasa syukur Umat Hindu Kabupaten Blitar, serta sedikit memberi hiburan kepada Warga Sekitar Jolo Sutro yang selama ini ikut mendukung pelaksanaan Upacara Melasti di Pantai Jolo Sutro”.

IMG-20180314-WA0130 IMG-20180314-WA0123

Sebelum pagelaran wayang kulit di mulai, Awak Beritamadani.co.id, menemui Ki Romo Lukmin selaku dalang dalam pagelaran wayang kulit ini. Ki Romo Lukmin menyampaikan, “ Dalam rangka Memperingati Tahun Baru Saka ada rangkaian acara yang besar yaitu Upacara Melasti, tujuannya memohon tirta suci Kepada Tuhan Yang Maha Suci Sang Yang Widi, yang menguasai laut, memohon tirta suci untuk meruwat dunia, maksudnya jagad agung (alam semesta) dan jagad alit (manusia). Kemudian ada Upacara Ogoh-ogoh dengan membakar buta kala, tujuannya menetralisir kekuatan negative agar alam ini bisa harmonis dengan manusia. Puncak acara akan dilaksanakan Upacara Dharma Santi yang dilaksanakan di Candi Penataran”.

“Pagelaran wayang kulit semalam suntuk kali ini mengambil Lakon “Dewa Ruci” yang mengisahkan seorang Kesatria Pandawa yaitu Baratasena meguru (mencari ilmu, red) kepada Pandita Durna atau Resi Kumbayana akan mencari wedaring ilmu sastro jendro hayuningrat. Sastro artinya tulis, jendro artinya penguasa atau ratu, hayu artinya baik, ning artinya suci atau keheningan, rat artinya jagad. Sastro Jendro Hayuningrat sama dengan ilmu sangkan paraning dumadi”.

“Pandita Durna tidak bisa mengajarkan tetapi hanya bisa menunjukkan jalannya harus begini, nanti yang bisa bertemu dengan Dewa Ruci adalah jati dirinya Baratasena sendiri. Baratasena akan mendapatkan ilmu dengan laku naik gunung mencari kayugung susuhing angin yang merupakan petunjuk dari Pandita Durna. Kayugung susuhing angin berasal dari kata kayu / kayun artinya kehendak, gung artinya besar, susuhing angin artinya telenging nafas. Jadi orang yang mempunyai tujuan atau cita-cita harus dengan keheningan”, pungkas Ki Romo Lukmin.

IMG-20180314-WA0126 IMG-20180314-WA0125

Ditengah-tengah acara pagelaran wayang kulit, Ki Aris Sugito Ketua Lembaga Pelindung Pelestari Budaya Nusantara memberikan sambutan. Dalam sambutannya Ki Aris Sugito menyampaikan, “Kami sangat mengapresiasi Umat Hindu yang hingga saat ini masih melestarikan wayang kulit. Pagelaran wayang ini dihadiri dari berbagai macam keyakinan yang menggambarkan bahwa kita ini Bhineka Tunggal Ika. Tan Hanna Dharma Mangrua, artinya tidak ada keutamaan yang makro. Keutamaan hanya satu yaitu iku. Iku dalam hal ini ada yang menyebutnya Sang Yang Widi Wase, Gusti Pangeran, Gusti Allah. Namun Dharma tidak boleh mendua. Dharma yang dimaksud adalah keutamaan, yaitu keutamaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun berbeda keyakinan tetapi yang harus dijaga dan dijunjung tinggi yaitu toleransi”.

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk ini walau digelar di pesisir laut yang jauh dari keramaian kota, namun para undangan tetap hadir dan melihat pagelaran wayang kulit sampai selesai. Wayang kulit bukan hanya sekedar tontonan atau hiburan semata, tetapi juga sebagai tuntunan kehidupan dan Melestarikan Budaya Adi Luhung Bangsa Indonesia. (Widya)

Share This:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL