Agens Pengendali Hayati (APH) Untuk Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

IMG-20170421-WA0027 IMG-20170421-WA0013

Malang, Beritamadani.co.id – Sahabat Madani, dewasa ini untuk mengendalikan hama penyakit pada tanaman yang dibudidayakan, tidak jarang petani menggunakan pestisida kimiawi untuk membasmi organisme pengganggu. Tahukah anda dibalik manfaatnya yang besar bagi peningkatan produksi pertanian, terselubung bahaya yang mengerikan.

Oleh karena hal tersebut diatas, pada kesempatan kali ini penulis ingin berbagi, untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat petani, tentang pentingnya Agens Pengendali Hayati (APH), sebagai pengendalian yang ramah lingkungan, efektif dan efisien.

Sebelum kita melakukan pembahasan lebih dalam, terlebih dahulu kita wajib mengenal tentang Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), yang merupakan alasan mengapa masyarakat petani menggunakan pestisida kimia untuk membasmi OPT.

”Apakah yang dimaksud dengan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)?”. Organisme pengganggu tanaman adalah semua organisme baik dari jenis hama maupun penyakit yang dapat merusak dan menurunkan hasil produksi sehingga menimbulkan kerugian secara ekonomi pada tanaman yang dibudidayakan.

Organisme pengganggu tanaman juga merupakan salah satu penghambat produksi dan penyebab ditolaknya produk tersebut masuk ke suatu negara, karena dikawatirkan akan menjadi hama/penyakit baru di negara yang ditujunya.

IMG_20170421_110835 IMG_20170421_092213

Akhir-akhir ini disadari bahwa pemakaian pestisida, khususnya pestisida sintetis ibarat pisau bermata dua. Selain memiliki manfaat yang besar, tak bisa dipungkiri, bahaya pestisida semakin nyata dirasakan masyarakat petani. Terlebih akibat penggunaan pestisida yang tidak bijaksana.

Tidak jarang hasil produk pertanian kita yang siap ekspor ditolak hanya karena tidak memenuhi syarat mutu, maupun kandungan residu pestisida yang melebihi ambang toleransi.

Penggunaan pestisida yang kurang bijaksana seringkali menimbulkan masalah antara lain :

  1. Terjadinya resurgensi

Pemakaian pestisida sering menyebabkan musuh alami juga ikut mati, ketika hama kembali menyerang daerah itu, tidak ada lagi musuh alami dan populasi serangga hama akan cepat meningkat. Keadaan populasi yang cepat meningkat dibandingkan populasi awalnya sering dikenal dengan istilah resurgensi

  1. Ledakan hama sekunder

Ketika musuh alami mengalami kematian akibat aplikasi pestisida. Ada serangga hama lain yang awalnya bukan hama sasaran/utama populasinya akan meningkat, karena musuh alami yang awalnya mampu menjaga kepadatan populasinya selalu rendah menjadi tidak ada, atau kepadatan populasinya tidak lagi mampu mengendalikannya, maka kondisi ini sering dikenal sebagai ledakan hama sekunder.

  1. Resistensi hama

Resistensi dapat berkembang ketika pestisida secara ekstrim efektif mematikan sebagian besar populasi serangga hama setelah aplikasi. Akan tetapi kadang-kadang beberapa populasi masih hidup karena toleran terhadap aplikasi pestisida tersebut. Strain baru itu menjadi resistan terhadap pestisida dan populasinya akan terus meningkat meskipun pestisida diaplikasi ulang (Fuadi, 2012).

Akibat penggunaan pestisida yang kurang bijaksana yang telah disebutkan diatas, maka sangat perlu untuk dilakukan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Salah satunya adalah dengan cara pengendalian hayati. Pengendalian OPT ramah lingkungan dengan cara pengendalian  hayati merupakan upaya pengendalian yang lebih aman dibandingkan dengan pengendalian menggunakan pestisida.

IMG-20161124-WA0002 IMG-20161124-WA0000

Pengendalian OPT secara hayati merupakan salah satu komponen dalam pengendalian hama secara terpadu (PHT), dimana dengan cara hayati diharapkan terjadi keseimbangan dalam ekosistem, sehingga keberadaan OPT tidak menimbulkan kerugian secara ekonomis. Dengan pengelolaan ekosistem yang baik, peran musuh alami dapat dimaksimalkan untuk mencegah timbulnya eksplosi OPT.

Selanjutnya pada pembahasan kali ini, marilah kita juga mengenal apa yang dimaksud dengan Agens Pengendali Hayati (APH). Agens Pengendali Hayati adalah setiap organisme yang dalam semua tahap perkembangannya dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dalam proses produksi, pengolahan hasil pertanian dan berbagai keperluannya.

Anonim (2002) dalam Sunarno (2016), menyatakan bahwa pengendalian hayati adalah pengendalian serangga hama dengan cara biologi, yaitu dengan memanfaatkan musuh-musuh  alaminya (agen pengendali biologi).

Agensia hayati merupakan sarana pengendalian OPT yang sebenarnya telah tersedia di suatu ekosistem, tetapi seringkali keberadaannya pada tingkat yang tidak memadai, hal ini menyebabkan populasi OPT cenderung semakin meningkat. Ketersediaan agens pengendali hayati yang memadai pada suatu ekosistem, sangat menentukan keberhasilan usaha pengendalian OPT.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan pengembangan agens pengendali hayati baik ditingkat petani maupun ditingkat laboratorium, sehingga keseimbangan dalam ekosistem dapat terjaga dan hasil produksi diharapkan dapat meningkat.

IMG-20161124-WA0004IMG-20161124-WA0005

Agens hayati dapat berupa predator, parasitoid, patogen dan agens antagonis. Apakah yang dimaksud dengan keempat hal tersebut diatas, berikut penjelasannya:

  1. Predator adalah binatang yang memburu dan memakan atau menghisap cairan tubuh mangsanya. Contoh : laba-laba, kumbang kubah
  1. Parasitoid adalah serangga yang hidup sebagai parasit pada atau di dalam serangga lainnya (serangga inang) hanya selama masa pra dewasa (masa larva).

          Imago hidup bebas bukan sebagai parasit dan hidup dari memakan nektar, embun madu, air dan lain-lain.

          Contoh : Trichogramma sp., Lalat Tachinid, Tawon Bracon

  1. Patogen Serangga adalah mikroorganisme yang menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit terhadap OPT, secara spesifik mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga, yang terdiri dari cendawan, bakteri dan virus. Contoh : dari golongan cendawan Beauveria bassiana  dan Metarhizium   anisopliae.
  1. Agens Antagonis adalah mikroorganisme yang mengintervensi/menghambat pertumbuhan patogen penyebab penyakit pada tumbuhan. Contoh : dari golongan cendawan Trichoderma spp. dan dari golongan bakteri Pseudomonas fluorescens.

IMG-20161124-WA0001GAYAS1

Pengendalian hayati mempunyai kelebihan dan kekurangan, menurut Wagiman (2014) kelebihan dalam penggunaan agens pengendali hayati antara lain:

  1. Tingkat keberhasilan pengendalian hama yang tinggi dengan biaya yang rendah dalam periode waktu yang lama.
  2. Agens pengendalian hayati aktif mencari inang atau mangsanya, tumbuh dan berkembang mengikuti dinamika populasi inang atau mangsanya.
  3. Pengendalian hayati tidak berpengaruh negatif terhadap manusia dan lingkungan.
  4. Beberapa tipe agens pengendalian hayati dapat digunakan sebagai insektisida hayati.
  5. Umumnya spesies hama tidak mampu berkembang menjadi resisten terhadap agens pengendalian hayati.

Adapun kelemahan penggunaan agens pengendali hayati menurut Maspary (2013), antara lain :

  1. Bekerja secara lambat. Kondisi ini seringkali membuat petani tidak sabar menunggu hasilnya dan menganggap agen hayati tidak manjur. Akhirnya petani kembali beralih ke pestisida kimiawi.
  2. Sulit diprediksi hasilnya. Perkembangabiakkan agen hayati setelah diaplikasikan sangat tergantung dengan ekosistem. Pada saat pengaplikasian, jika kondisinya mendukung, maka pertumbuhan agen hayati akan maksimal.
  3. Lebih optimal jika digunakan untuk preventif (pencegahan), karena membutuhkan waktu untuk pertumbuhannya. Kurang cocok digunakan untuk kuratif (penyembuhan penyakit), apalagi saat terjadi ledakan hama karena bekerja secara mandiri.
  4. Pada jenis agens pengendali hayati tertentu sulit dikembangkan secara massal.

Sahabat Madani, pada pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa pengendalian hayati mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan dalam mengendalikan OPT, dengan diterapkannya pengendalian hayati diharapkan diperoleh produk pertanian yang aman bagi konsumen dalam kaitannya dengan residu pestisida dan aman bagi lingkungan.

Penulis :

Asri Maria W. SP.

Sumber:

1.Fuadi. I. 2012. Pemanfaatan Agens Hayati Sebagai Pengendali OPY yang Berwawasan Lingkungan. UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Riau.

2.Maspary. 2013. Kelebihan Dan Kekurangan Agensia Hayati.  www.gerbangpertanian.com. Diakses pada tanggal 17 November 2016.

3.Sunarno. Pengendalian Hayati ( Biologi Control ) Sebagai Salah Satu Komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Journal.uniera.ac.id. Diakses pada tanggal 17 November 2016.

4.Wagiman. 2014. Pengendalian Hayati. Laboratorium Pengendalian Hayati Fakultas Pertanian UGM.

Share This:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL