Pagelaran Wayang Kulit di Dinas Pendidikan Kota Kediri

IMG-20170513-WA0009 IMG-20170513-WA0011

Kediri, Beritamadani.co.id – Pagelaran wayang kulit semalam suntuk, oleh Ki Dalang Rudi Gareng, dengan Lakon “Wahyu Tri Margo Joyo”, merupakan puncak Acara Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Dinas Pendidikan Kota Kediri. Acara ini dihadiri oleh Walikota dan Wakil Walikota Kediri beserta Asisten Pemerintah Kota Kediri, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri beserta staf, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kediri, Inspektur Inspektorat Kota Kediri, Mantan Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Kepala UPTD se Kota Kediri beserta staf, Kepala dan Guru PAUD se Kota Kediri dan masyarakat Kota Kediri dan sekitarnya.

Sebelum dimulainya acara pagelaran wayang kulit semalam suntuk diawali dengan sambutan dari Drs. H. Siswanto, M.Pd., selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri. Dalam sambutannya menyampaikan, “Rangkaian kegiatan dalam rangka Memperingati Hari Pendidikan Nasional Tahun 2017, Dinas Pendidikan Kota Kediri, antara lain: Tanggal 02 Mei 2017 mengadakan Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Tanggal 11 Mei 2017 mengadakan Gebyar PAUD dan pameran. Ini tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kota Kediri”.

IMG-20170513-WA0005 IMG-20170513-WA0008

“Pada Tanggal 12 Mei 2017 ini mengadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan Lakon Wahyu Tri Margo Joyo. Dalam lakon ini yang mendapatkan wahyu adalah Bimo. Ini bisa sukses kalau didukung oleh 3 kekuatan. Disitu ada Ontorejo, Gatut Koco, Ontoseno kekuatannya adalah di legislatif, ekskutif, yudikatif  manunggal”, pungkas Siswanto.

Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Abdullah Abu Bakar, SE selaku Walikota Kediri. Dalam sambutannya menyampaikan, “Dinas Pendidikan Kota Kediri, hari ini merayakan Hari Pendidikan Nasional. Saya ingin menitipkan pesan, kita memiliki cita-cita yang sama, kita ingin menjadi masyarakat yang menorehkan sejarah untuk kehidupan anak cucu kita dimasa akan datang, pasti ingin yang terbaik untuk mereka. Oleh karena itu kami meletakkan pendidikan di Kota Kediri adalah yang utama”.

IMG-20170513-WA0016 IMG-20170513-WA0007

“Karena zaman dahulu konon katanya munculnya aksara di Kota Kediri letaknya di daerah Gunung Klotok. Ini budaya dan sejarah yang menyebutkan. Dari dulu sampai sekarang Kota Kediri adalah pusatnya pendidikan. Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Stakeholder  pendidikan di Kota Kediri. Alhamdulilah saat ini IPM (Indeks Pembangunan Manusia) kita jauh diatas Nasional maupun diatas Jawa Timur. IPM di Kota Kediri sangat tinggi, ini berkat kerjasama kita semua”, pungkas Abu Bakar.

Setelah sambutan selesai dilanjutkan dengan penyerahan tokoh wayang Ontorejo, Gatut Koco, Ontoseno dari Bapak Walikota Kediri kepada Ki Dalang Rudi Gareng dari Kota Blitar, didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Asisten Pemerintahan Kota Kediri sebagai tanda telah dimulainya Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk dengan Lakon “Wahyu Tri Margo Joyo”, langsung disambut tepuk-tangan yang meriah dari para penonton.

IMG-20170513-WA0006 IMG-20170513-WA0014

Saat dikonfirmasi Awak Beritamadani.co.id sebelum pementasan, Ki Dalang Rudi Gareng menuturkan, “Alur cerita dari Lakon Wahyu Tri Margo Joyo  itu pada dasarnya Tri itu tiga, Margo itu jalan dan Joyo itu kemerdekaan atau kejayaan. Wahyu itu berarti ada tiga yaitu: wahyunya senopati, kanalendran dan pendeta. Dalam cerita ini ada tiga kesatria yang mendapatkan wahyu yaitu Werkudoro, Janoko dan Hanoman. Awal mulanya Negara Ngastino geger. Duryudono susah karena sering bertengkar dengan Prameswari Banowati. Akhirnya kedatangan Pendeta baru di negara Ngastino yang bernama Dewo Pertolo. Dewo Pertolo memberitahu Duryudono bahwa istrinya (Banowati) jangan dimarahi. Suasana seperti itu karena Banowati sedang membawa Wahyu Tri Margo Joyo salah satunya Wahyu Kanalendran. Suatu saat Banowati akan melahirkan Wahyu Kanalendran (Raja). Oleh karena itu tidak boleh disentuh, tidak boleh dimarahi akhirnya Duryodono menerima nasehat dari Dewo Pertolo”.

“Wahyu itu ada tiga salah satunya Hanoman. Hanoman harus mati supaya wahyu senopati bisa diperoleh oleh Kurawa. Akhirnya Dewo Pertolo dan Kurawa berusaha membunuh Hanoman. Hanoman naik ke atas, rogo sukmo ke kayangan mendapat Wahyu Pandito (pendeta)”.

IMG-20170513-WA0010 IMG-20170513-WA0012

“Werkudoro dan Kresno berusaha mendapatkan Wahyu Senopati. Janoko dengan usahanya yang keras agar bisa menyentuh Banowati diikuti punakawan akhirnya wahyu dari Banowati pindah ke Janoko. Dengan begitu yang menerima Wahyu Tri Margo Joyo yaitu Janoko, Werkudoro dan Hanoman yang suatu saat akan melahirkan Raja Abimanyu dan Gatut Kaca. Untuk pandito tetap Hanoman. Diharapkan yang bisa menjadikan tenteramnya negara yaitu ratu, senopati dan pandito. Akhirnya Dewo Pertolo yang merupakan jelmaan dari Doso Muko kembali kewujud asalnya. Orang baik akan pasti tetap mendapatkan berkah”, pungkas Ki Rudi Gareng.

Semakin malam semakin banyak penonton yang menyaksikan pagelaran wayang kulit. Apalagi disaat Niken Salindri sinden cilik asal Kediri mulai melantunkan Langgam Jawa “Kutut Manggung dan Kelinci Ucul” dengan suara emasnya memukau penonton, para penonton sangat kagum melihat kepiawaian sinden cilik yang baru duduk di kelas 2 Sekolah Dasar. Penonton tetap setia menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon “Wahyu Tri Margo Joyo” sampai dengan selesai. (Widya)

Share This:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL