Pesona Alam Goa Tabuhan

dsc03396 dsc03391

Pacitan, Beritamadani.co.id – Pacitan terkenal dengan sebutan Kota 1001 Goa. Salah satu diantaranya yaitu Goa Tabuhan yang terletak di Dusun Tabuhan, Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan.

Goa Tabuhan ini memiliki kelebihan pada batu-batu stalaktit yang bisa berbunyi (jika dipukul), sehingga muncul suara emasnya yang dapat digunakan untuk mengiringi gending campursari. Dari batu-batu stalaktit ini bisa menimbulkan bunyi menyerupai irama Gamelan Jawa. Walaupun sudah bertahun-tahun dipukul untuk mengiringi gending campursari, namun tidak merubah bentuk stalaktit tersebut.

Walaupun penerangan di dalam goa sangat minim sekali, namun pengunjung tetap bisa menikmati keindahan dalam goa, di bantu dengan penerangan lampu senter dan didampingi pemandu wisata yang sudah terlatih dari warga sekitar Goa Tabuhan.

Dyan, salah satu pengunjung Goa Tabuhan mengatakan, “Goa Tabuhan ini sangat indah sekali. Walaupun penerangan di dalam goa sangat minim, tapi kami bisa menikmati keindahan dalam Goa Tabuhan dibantu penerangan lampu senter dan didampingi pemandu wisata yang sabar dan ramah”.

“Selain itu kami juga bisa menikmati gending campursari yang menggunakan stalaktit goa sebagai alat musiknya. Subhanallah sangat menakjubkan”, pungkas Dyan.

dsc03369 dsc03392

Saat dikonfirmasi Awak Beritamadani.co.id, Suranto (60th), salah satu penabuh stalaktit mengatakan, “Saya generasi keempat dari Paguyuban Ngudi Laras Selo Argo. Sejak Tahun 1923 sudah ada Group Musik (paguyuban) Ngudi Laras Selo Argo (mencari laras batu gunung). Group ini anggotanya 10 orang (7 orang penabuh stalaktit dan 3 orang sinden)”.

“Karena banyak objek wisata baru, maka pengunjung Goa Tabuhan berkurang. Kalau dahulu dalam sehari, bisa sampai 10 paket gending campursari, tapi sekarang paling hanya 5 paket gending campursari saja karena pengunjung tidak sebanyak dahulu. Harapan kedepan pengunjung kembali banyak seperti dahulu lagi”, pungkas Suranto.

Untuk menikmati 1 paket gending campursari yang musiknya langsung dari stalaktit dalam Goa Tabuhan, pengunjung hanya perlu mengeluarkan  biaya Rp. 150.000,- untuk 5 gending campursari dan diberi tambahan bonus 1 gending campursari.

Ditempat terpisah Awak Beritamadani.co.id menemui Sutrisno (60 th), salah satu Pemandu Wisata Goa Tabuhan menceritakan, “Dahulu kala ada seorang penggembala sapi yang menggembala sapi dan mencari rumput. Tanpa disengaja sapi itu masuk ke rerimbunan. Setelah dia masuk ternyata itu sebuah goa. Kemudian si penggembala sapi itu melaporkan apa yang dilihatnya kepada Kyai Sondiko (sesepuh desa yang juga seorang waliyullah). Kemudian Kyai Sondiko mengatakan “Man Man, gawekno dalan. Mbesok rejane jaman, goa iki keno di gae golek sandang-pangan anak putumu” (Man Man, tolong buatkan jalan. Besuk saat kemanjuan zaman, goa ini bisa digunakan untuk mencari penghasilan anak cucumu, red)”.

dsc03386 dsc03375

“Goa ini pernah digunakan untuk bertapa oleh Sentot Prawirodirjo panglima perang di Zaman Perang Diponegoro (1825-1830). Goa Tabuhan juga pernah dihuni oleh manusia prasejarah yang hidup ribuan tahun lalu”.

“Dan apabila ada pengunjung yang bisa melihat harimau putih itu adalah harimau putih peliharaan Kyai Sondiko. Harimau putih itu hanya arwahnya saja dan tidak mau mengganggu orang”.

“Dinamakan Goa Tabuhan karena Kyai Sondiko tanpa sengaja memukul batu stalaktit di dalam goa dan menimbulkan bunyi seperti gamelan yang bisa digunakan sebagai musik pengiring gending campursari”, pungkas cerita Sutrisno.

Akses jalan menuju Goa Tabuhan sekarang sudah bagus, bisa dilalui bus besar. Warga berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan meningkatkan lebih baik lagi fasilitas sarana prasarana pariwisata di Goa Tabuhan agar bisa menarik wisatawan domestik maupun manca-negara.

Kalau berkunjung ke Pacitan, jangan lupa mampir ke Goa Tabuhan. Selain bisa menikmati keindahan goa, anda juga bisa menikmati gending campursari dengan iringan musik dari batu stalaktit dalam Goa Tabuhan. Tidak kalah menariknya anda juga bisa berburu buah tangan mulai dari kuliner sampai batu aji (batu akik) khas Pacitan.(Widya)

Share This:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL