Ritual Sesaji Gunung Kelud

dsc02469 dsc06265

Kediri, Beritamadani.co.id – Ritual Sesaji Gunung Kelud merupakan salah satu agenda dalam rangkaian Acara Festival Kelud 2016. Ritual Sesaji Gunung Kelud dilaksanakan pada Hari Sabtu, 22 Oktober 2016, sejak Pukul 08.30 WIB, sampai dengan Pukul 10.00 WIB, start di area parkir atas Gunung Kelud dan finish di area proyek, ditebing sebelah kanan atas, Kawah Gunung Kelud.

Walaupun acara baru dimulai Pukul 08.30 WIB, namun sejak Pukul 07.00 WIB, para pelaku ritual dan masyarakat sekitar yang ingin mengikuti dan menyaksikan Ritual Sesaji Gunung Kelud, sudah berdatangan di area parkir atas Gunung Kelud.

Acara Ritual Sesaji Gunung Kelud ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri beserta jajarannya, Polres Kediri, Satpol PP Kabupaten Kediri, Kepala Wilayah Kecamatan Ngancar, Muspika Kecamatan Ngancar, Danramil Ngancar beserta staf, Kapolsek Ngancar beserta staf, Kepala Desa se-Kecamatan Ngancar beserta jajarannya, Kepala UPTD SD, SMP, SMA se-Kabupaten Kediri, RT, RW, Tokoh Masyarakat Desa Sugihwaras dan sekitarnya, Inu Kirana Kabupaten Kediri dan masyarakat sekitar.

dsc02428dsc02442

Pra acara Ritual Sesaji Gunung Kelud diisi dengan pentas Tari Gambyong, oleh Siswi SLTPN 1, Ngancar. Tepat Pukul 08.30 WIB, pembawa acara memulai acara Ritual Sesaji Gunung Kelud. Acara dimulai dengan pembukaan membaca Surat Al-Fatihah (untuk muslim) dan untuk non muslim sesuai dengan agama kepercayaan masing-masing, dengan tujuan agar acara ini bisa berjalan dengan lancar. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ngaseri, SH,MM, Kepala Wilayah Kecamatan Ngancar.

Dalam sambutannya Ngaseri, SH,MM menyampaikan, “Kegiatan ritual sesaji Gunung Kelud ini merupakan kegiatan tahunan yang bertujuan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan warisan leluhur, serta dalam upaya pelestarian Upacara Adat Gunung Kelud”.

“Kami sadar bahwa kami bisa hidup di lereng Gunung Kelud in,i merupakan anugerah yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sudah sepatutnya kami mensyukurinya dengan cara dan upaya kami. Kegiatan Ritual Sesaji Gunung Kelud yang merupakan hajat masyarakat atau Warga Kecamatan Ngancar, merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun yang bertepatan dengan Bulan Suro”.

dsc02461 dsc02463

“Rasa syukur kami kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan nikmat, keberkahan hasil bumi dan hasil usaha kami yang tidak lepas dari takdirNya kepada kami di sekitaran Gunung Kelud. Ritual Sesaji merupakan semangat gotong-royong, persatuan, kebersamaan warga dalam memaknai Gunung Kelud sebagai bagian dari kehidupan Masyarakat Kabupaten Kediri”.

“Untuk itu saya berterimakasih kepada seluruh pihak yang hadir dan mendukung kegiatan ini. Kegiatan ini kita lanjutkan besok (Minggu, 23 Oktober 2016, red) yaitu Festival Nanas, sebagai wujud rasa syukur bahwa Masyarakat Kabupaten Kediri yang berada di lereng Gunung Kelud, juga sebagai icon penghasil nanas terbesar di Kabupaten Kediri dan di Jawa Timur”, pungkas Ngaseri mengakhiri sambutannya.

Setelah sambutan dari Kepala Wilayah Kecamatan Ngancar, dilanjutkan dengan Pentas Tari Robyong dari Siswi SLTPN 1 Ngancar. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Gembong Prajitno, selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri.

dsc06286 dsc06251

Dalam sambutannya, Gembong Prajitno menyampaikan, “Kekuatan Ritual Sesaji Gunung Kelud, berawal dari Legenda Dewi Kilisuci dengan Maeso Suro. Kegiatan ini juga untuk menunjukkan kearifan lokal. Dikisahkan dalam legenda tersebut bahwa Maeso Suro akan mempersunting Dewi Kilisuci, namun pada kenyataannya ia justru membawanya dalam kematian yang tragis”.

“Legenda ini memberikan gambaran kepada kita agar selalu bersikap mawas diri serta menjauhkan sifat keangkara-murkaan seperti sikap yang Dewi Kilisuci lakukan. Ritual Sesaji Gunung Kelud merupakan perlambang rasa syukur kita kepada Ilahi Robbi, untuk mensyukuri karunia yang telah diberikan Tuhan kepada kita”.

“Dengan berpedoman pada nilai-nilai budaya tanpa mengurangi kesakralan dan tradisi agar mampu meningkatkan sektor kepariwisataan daerah, yang berimplementasi pada peningkatan ekonomi masyarakat khususnya masyarakat di sekitar lereng Gunung Kelud”, pungkas Gembong Prajitno.

Acara dilanjutkan dengan serah terima “tongkat sakti” dari Camat Ngancar kepada Mbah Ronggo dan serah terima “cok bakal” dari Camat Ngancar kepada Pinisepuh Gunung Kelud, diringi tembang macapat. Kemudian doa bersama yang dipimpin oleh masing-masing tokoh agama dan kepercayaan yang hadir.

Tepat Pukul 09.15 WIB, semua peserta ritual berjalan beriringan menuju bok glodak depan jembatan atas arah pintu masuk area proyek Gunung Kelud dengan urutan barisan: Putri tandu, dayang, prajurit, Kepala Wilayah Kecamatan Ngancar, Kepala Desa Sugihwaras, Pinisepuh, RT, RW, Tokoh Masyarakat Desa Sugihwaras, rombongan 9 desa, jaranan, Masyarakat/warga Hindu, baru masyarakat umum. Sesampainya di bok glodak, tumpeng robyong dibagi bersama ke pengunjung.

dsc02407 img-20161022-wa0002

Putri tandu ini merupakan perlambang dari Dewi Kilisuci. Sebelum menjadi putri tandu, harus melalui seleksi dan harus menjalankan ritual puasa selama 40 hari. Sedangkan rombongan dari Desa Sugihwaras, Desa Ngancar, Desa Sempu dan Desa Babadan membawa tumpeng robyong yang berasal dari hasil bumi.

Saat dikonfirmasi Awak Beritamadani.co.id, Ngaseri, SH, MM, selaku Kepala Wilayah Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, mengatakan, “Ritual Sesaji ini event tahunan. Harapan saya kita ini berada diperadaban Gunung Kelud dan peradaban budaya. Gunung Kelud mempunyai nilai budaya yang tinggi, karena setiap apapun yang ada di negeri ini kita berfikir bahwa Kelud mempunyai andil besar terkait dengan prosesi. Terkait dengan budaya dan sebagainya sebagai penguat, bahwa budaya sekitar kita ini kita bangkitkan, kita kembangkan bahwa melalui budaya kita menjadi penguat bangsa. Kedepan ini terus kita laksanakan dengan harapan bahwa semua aspek masyarakat mengedepankan budaya harus kita lestarikan. Untuk prosesi mulai dari area parkir atas Gunung Kelud ke bok glodak sampai kawah. Yang ke kawah perwakilan dari pinisepuh yang kami tugaskan dibeberapa titik untuk tempat ritual”.

Ditempat terpisah Awak Beritamadani.co.id, menemui Mbah Suparlan, Sesepuh Paguyuban Gunung Kelud. Mbah Parlan menyampaikan, “Perlengkapan ritual antara lain ndas wedhus kendit (kepala kambing kendit) untuk tolak balak, kelapa hijau maksudnya untuk sesaji. Tujuan diadakan ritual ini untuk meminta keselamatan dan tolak balak kepada Tuhan Yang Maha Kuasa”.

dsc06220 dsc06212

Di atas Bibir Kawah Gunung Kelud diadakan Ritual Sesaji khusus yang dipimpin oleh Mbah Suparlan, sebagai Pinisepuh Paguyuban Gunung Kelud. Dalam ritualnya, Mbah Suparlan meminta keselamatan, ketentraman, gemah ripah loh jinawi (diberikan rizqi yang berlimpah ruah). Semoga masyarakat yang berada di lereng Gunung Kelud pada khususnya dan umumnya Masyarakat Kabupaten Kediri, diberi keselamatan, kebahagiaan, ketentraman dan jauh dari mara bahaya selama-lamanya. Semoga bisa bersatu antara, rasa, cipta dan karsa.

Setelah selesai mengadakan ritual, Sesepuh Paguyuban Gunung Kelud memerintahkan kepada Dul, selaku Penunggu Kawah Gunung kelud, untuk melarung semua perlengkapan ritual termasuk kepala kambing kendit, dilarung ke dalam Kawah Gunung Kelud. Tepat selesai Acara Ritual Sesaji Gunung Kelud, langsung turun hujan lebat. Marilah kita bersama-sama bersinergi menjaga kearifan lokal untuk melestarikan budaya bangsa. (Widya)

Share This:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL