ABK Sharing#2, Anak Dengan Gangguan Penglihatan (Tunanetra)

abk11_tunanetra abk22_tunanetra

Malang, Beritamadani.co.id – Anak berkebutuhan khusus (ABK) salah satunya adalah anak tunanetra, dimana anak tunanetra mengalami gangguan daya penglihatannya, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian. Siapa sangka apabila anak tunanetra diberikan pendidikan khusus, banyak pula yang berprestasi.

 Salah satunya adalah Ahmad Syihab Athaillah, seorang anak ABK Tunanetra Penghafal Al-Qur’an. Anak Ahmad SA tinggal di Kota Batu dan Lahir di Kota Malang, pada Tanggal, 20/04/2007. Ananda mengalami gangguan penglihatan sejak lahir dikarenakan proses kelahiran prematur dimana pada waktu dilahirkan, retina ananda belum berkembang dengan sempurna. Jadi ananda termasuk dalam Gangguan Penglihatan Total.

Menginjak usia 9 tahun ini telah banyak prestasi dan pengalaman luar biasa yang di dapatkan oleh ananda. Tidak semua anak-anak di usianya bisa memiliki kemampuan dapat menghafal semua Ayat-ayat Suci Al-Qur’an tetapi lain halnya dengan ananda dengan keterbatasannya itu ananda bisa menghafal Al-Qur’an serta melantunkannya dengan begitu merdu dan syahdu. Dimanapun ananda berada pastilah ananda yang akan selalu mengumandangkan Azan di Musholla atau Masjid terdekat.

Menjadi inspirator disetiap tampilannya dilayar televisi yang pernah mengundangnya, salah satunya mengisi dalam acara di TV swasta nasional. Tidak semua anak memiliki pengalaman yang begitu luar biasa. Keterbatasannya tidak menyurutkan semangat serta kasih sayang orang tuanya dalam mengasuh, membimbing dan mengarahkan agar keterbatasan yang dimiliki justru akan menjadi sebuah kelebihan yang Luar Biasa.

Orang tua sebagai tonggak dan lingkungan terpenting dalam kehidupan ananda Ahmad Syihab Athaillah. Membuat ananda Ahmad Syihab Athaillah percaya diri, berani dan selalu giat rajin dalam belajar. Dalam mengenyam pendidikan saat ini ananda bersekolah disalah satu sekolah swasta penyelenggara pendidikan Inklusif di Kota Batu dan mendapatkan layanan serta bimbingan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Kemudian anak ABK tunanetra yang lain, yang juga berprestasi adalah Fikri Al Faris, ananda lahir di Surabaya, Tanggal, 30/12/2002 dan sekarang tinggal di Kota Batu bersama ibu dan kakeknya. Karena ayahnya telah meninggal saat ananda berada di kelas 5 sekolah dasar. Ananda sejak lahir telah mengalami gangguan lemah penglihatan (low vision) karena terserang oleh Virus Rubella pada saat ananda dalam kandungan (Virus Rubella ini berasal dari polusi udara yang sangat buruk dihirup oleh ibunya pada saat mengandung,red). Pada saat ini ananda menggunakan bantuan lensa tanam dimatanya agar masih dapat terbantu dalam aktifitas penglihatannya. Selain mengalami gangguan lemah penglihatan ananda juga termasuk dalam ABK Autisme.

Orang tua dan kakeknya membantu ananda dalam segala hal dan memberi pengaruh terbesar dalam perkembangan pendidikannya serta kehidupan sosialnya dengan teman dan lingkungan sekitarnya hingga ananda dapat diterima dengan sangat baik. Hobi ananda yang senang bernyanyi dan bermain alat musik piano serta cita-cita mulianya menjadi seorang reporter benar-benar membuat kagum. Dengan keterbatasannya yang demikian tetapi ananda berani dan mampu menyanyikan dan menghafal banyak lagu anak-anak. Ibu dan kakeknya sangat memfasilitasi hobi ananda.

Saat ini ananda menempuh sekolah menengah pertamanya di sekolah luar biasa dan sebelumnya di sekolah dasar umum yang menyelenggarakan program inklusif. Secara akademik ananda sangat bagus dengan jarak membaca yang sangat dekat antara 5-10 Cm tidak menghalanginya untuk tekun dan rajin membaca. Semangatnya sungguh luar biasa. Kasih sayang ibu dan kakeknya sungguh menginspirasi kehidupan banyak orang.

abk44_tunanetra abk55_tunanetra

Dari apa yang penulis sampaikan diatas, pada kesempatan sharing #2 tentang ABK kali ini.”Siapakah ABK Tunanetra?”. ABK Tunanetra adalah anak yang tidak atau kurang dapat melihat, yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan (tunanetra total,red). Menurut Hallahan & Kaufman, anak yang lemah penglihatan (low vision) maupun yang totally blind termasuk kategori anak dengan gangguan penglihatan. Pada kesimpulannya anak tunanetra adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

Anak dengan gangguan penglihatan memiliki karakteristik khusus dan karakteristik belajar, yang bisa penulis jelaskan sebagai berikut:

A.Karakteristik khusus

  1. Karakteristik Fisik
  • Sering menabrak ketika bergerak
  • Memegang buku dekat ke muka ketika membaca
  • Peradangan hebat pada kedua bola mata sehingga sering mengeluh kepala pusing/mata gatal/mata berair
  • Anak sering menggosok atau mengucek-ucek mata
  • Kerusakan nyata pada kedua bola mata, bentuk dan warna bola mata berbeda, bola mata bergoyang-goyang, mengecil, atau berwarna putih
  • Berkedip lebih banyak dari pada biasanya.
  • Sering meletakkan barang di tempat yang salah
  • Sering hendak terjatuh ketika melewati rintangan jalan
  • Sulit menirukan gerakan, misal dalam senam.
  • Sulit mengenal gambar jika warna kurang kontras.
  • Tidak mampu melihat untuk mengenali orang atau benda pada jarak 6 meter.
  • Sering meraba-raba/ tersandung waktu berjalan.
  • Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya.
  • Bagian bola mata yang hitam dan berwarna keruh/bersisik/kering.
  • Sukar mengerjakan pekerjaan yang sangat memerlukan penggunaan mata, misal menggambar, Kesulitan membaca huruf pada buku bacaan atau tulisan pada papan tulis, Kesulitan menulis pada garis lurus
  • Sering menunjukkan gerakan-gerakan yang tidak disadari (Blindisme). Misalnya : menggeleng-gelengkan kepala, memutar-mutarkan bad
  1. Karakteristik Psikologis

Akibat keterbatasan penglihatan, tunanetra cenderung : mudah curiga terhadap orang lain, banyak bertanya untuk menggali Informasi, daya Ingat kuat

Cara membantunya :

  • Gunakan obyek riil dan konkrit ketika menjelaskan konsep
  • Ketika hendak meminta perhatian anak, panggil namanya dan dalam proses penjelasan sesuatu gunakan komunikasi verbal.
  • Menyapa sambil membuat kontak dengan menyentuhkan punggung tangan kita pada lengan atau bahu anak.
  • Sediakan materi sesuai dengan tingkat penglihatan anak (Braille, pembesaran huruf, audio)
  • Gunakan arah jarum jam untuk menunjukkan letak
  • Hindari kata tunjuk, kata ganti orang, kata ganti tempat
  • Beritahu bila ada perubahan letak atau bila akan meninggalkan anak sendiri
  • Bercerita saat bepergian dengan anak
  • Sediakan alat bantu seperti reglet stylus, tape recorder, tongkat putih, atau assestive technology

B.Karakteristik Belajar Peserta Didik Tunanetra

  1. Buta (Blind) atau Tunanetra berat :
  2. a) Dalam belajar mengandalkan indera-indera non penglihatan.
  3. b) Menggunakan tulisan Braille dan atau rekaman audio yang dibaca melalui pendengaran.
  4. c) Memerlukan modifikasi alat teknologi misalnya piranti lunak screen readerJaws” untuk mengakses komputer dan handphone, “Timbangan bunyi” untuk mengukur berat benda, “Bola berbunyi” untuk bermain bola dalam olah raga, dan sebagainya.
  5. d) Dalam pembelajaran membutuhkan media yang bersifat tactual atau emboss.
  6. e) Membutuhkan tongkat dalam mobilitas khususnya dalam mengakses tempat-tempat yang “out door”.
  7. Kurang awas (low vision) atau tunanetra ringan.
  8. a) Setelah dikoreksi penglihatannya masih sedemikian buruk tetapi fungsi penglihatannya dapat ditingkatkan melalui penggunaan alat-alat bantu optik dan modifikasi lingkungan.
  9. b) Belajar melalui penglihatan dan indera-indera lainnya.
  10. c) Membaca tulisan yang diperbesar (large print) dengan lebih dari 12 large point.
  11. d) Membaca dengan bantuan kaca pembesar (lup).
  12. e) Terbantu apabila belajar Braille atau menggunakan rekaman audio.
  13. f) Keberfungsian penglihatannya akan tergantung pada faktor-faktor seperti pencahayaan, alat bantu optik yang dipergunakannya, tugas yang dihadapinya, dan karakteristik pribadinya.

Karakteristik yang ada ini tentu tidak mesti semuanya muncul, namun bila sangat mendominasi dan mengganggu proses pendidikannya maka dikatakan sebagai anak tunanetra, sehingga memerlukan pelayanan khusus dalam pendidikannya.

Setelah dijelaskan karakteristik yang tersebut diatas.”Apakah prinsip pembelajaran tunanetra?”, prinsip pembelajaran anak tunanetra adalah: 1) Prinsip Individual, 2) Prinsip kekonkritan atau pengalaman penginderaan, 3) Prinsip totalitas atau keutuhan, 4) Prinsip aktivitas mandiri (selfactivity).

Dan karakteristik pembelajaran untuk peserta didik tunanetra adalah dengan strategi pembelajaran sebagai berikut : 1)  Upaya memodifikasi lingkungan agar sesuai dengan kondisi anak, 2) Upaya pemanfaatan secara optimal indera-indera yang masih berfungsi, untuk mengimbangi kelemahan yang disebabkan hilangnya fungsi penglihatan (di sisi lain), 3)  Upaya untuk selalu dilatih cara menulis dan membaca Braille.

Semoga ABK Sharing#2 Tunanetra ini bermanfaat bagi pembaca www.beritamadani.co.id  dan Masyarakat Indonesia pada umumnya. Mari sayangi mereka para ABK dan mereka memiliki hak yang sama untuk berprestasi dan mendapatkan pendidikan. Sampai jumpa di ABK Sharing#3, selanjutnya.

Penulis: Firdiani Yuliana, S.Psi

Sumber Pustaka: Buku Pintar Kesehatan Anak Aulia Fadli, Psikologi Pembelajaran,M.Asrori, Anak Desa Penyandang Cacat, David Werner dkk, Masa Depan Pendidikan Inklusif,Prof.Suyanto.Ph.D,Dr.Mudjito AK.MSi, dan Buku Khusus Tulkit LIRP,Ir.Sri Renani P.

Share This:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL