Kirab Tumpeng Agung Nusantara 5 Merupakan Jembatan Budaya Berkesinambungan Kebesaran Bangsa

DSC00693DSC00714

Blitar, Beritamadani co.id – Lembaga Pelindung Pelestari Budaya Nusantara (LP2BN, red), hari ini Senin, 27 Juni 2016, berhasil membuktikan diri sebagai Lembaga Kebudayaan Rakyat (non profit) yang selalu eksis dan serius. Dengan sumber dana mandiri (swadana), tanpa pamrih, tetap berhasil  bertahan selama 5 tahun.

Disaat kebanyakan orang  memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan Hari Raya Idhul Fitri dan pusing memikirkan kondisi ekonomi yang sulit, Komunitas LP2BN tetap bertahan menjaga tradisi, melestarikan budaya bangsa, rela menjadi jembatan kebudayaan untuk menjaga kesinambungan kebesaran Bangsa Nusantara, dari masa lalu ke masa kini dan yang akan datang.

Seperti moment yang terjadi hari ini. Di minggu ketiga pada Bulan Puasa Ramadhan tahun ini, sebanyak 500 Peserta Kirab Tumpeng Agung Nusantara 5, dimotori oleh pelaku budaya dari tiga kota yaitu Blitar, Kediri, Tulungagung. Begitu khidmad melaksanakan kegiatan budaya. Start pukul 14.00 wib dari Situs Bale Kambang, Modangan Nglegok Blitar, berjalan arak-arakan dengan pakaian adat, didampingi para pemangku adat, pinisepuh, membawa Sesaji Upacara Tumpeng Agung, selama 45 menit menempuh Jarak 2 Km, menuju Candi Palah Penataran.

DSC00745DSC00813

Selama perjalanan dari Situs Balekambang menuju Candi Palah Penataran, diiringi Tembang Mijil yang di tembangkan oleh pinisepuh-pinisepuh yang ikut dalam kirab ini.

“Madeg gunung pralambang ngaurip, paribasane wong, kudu weruh mring dhodhok selehe, barang laku laku becik dingerteni, murih tembe mburi, nora nemu sandung.

Undang undang wis disarujuki, para wakil pamong, awak gunung kacang kanjarane, urip manut sing dirambati, nora madal sumbi, ning sakarsanipun.

Neng nduwure katon angubengi, jeruk karo lombok, pedes kecut sing dadi rasane, pancen urip rasane ra mesthi, bisa gonta-ganti, obah saben wektu.

Manggon nang pucuk gunungan kuwi, kang ing aran ontong, mujudke jantung perlambange, rasa lila legawane ati, jalaran ngelingi marang uripipun.

Brambang bawang warna abang putih, wewadi kang katon, kudu eling neng asal usule, uga sangkan paraning dumadi, bapak lambang putih, abang ibunipun.

Dene wortel saking njaban nagri, yo mung elon elon, mula kuwi malik pamasange, dimen gathuk anggone makarti, mlebu neng pertiwi, murih bisa jumbuh”.

Tiba di pintu gerbang Candi Palah Penataran disambut pinisepuh candi untuk disucikan dari debu perjalanan, kotoran atau menghapus sukerta  yang ikut masuk di Tempat Suci Rabut Palah.

Acara ini dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Blitar, Kapolres Blitar, Dandim, Kepala SKPD se Kabupaten Blitar dan perwakilan paguyuban yang ada di Blitar, Kediri dan Tulungagung. Paguyuban ini antara lain: PHDI, Sapta Dharma, Mardi Utama, Sumarah, Jawa Dwipa, Sangkan Paran, Ikatan Sejarah Indonesia, PALM Kediri, Lensa Mas, Heritage Blitar Sociaty, Blitar Taurism, Omah Budaya Sawentar, Perwakilan undangan dari Batam.

DSC00776 DSC00757

Para tamu undangan disuguhi Tari Garudeya Arumi, diperagakan 9 penari lanang (laki-laki) dan 9 penari wadon (perempuan) dari PHDI Ringinpitu, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, yang menggambarkan Prosesi Garuda Wisnu Mencari Tirta Suci Dari Kahyangan, untuk digunakan ngruwat bhumi (membebaskan dunia dari pengaruh jahat, red) untuk selanjutnya Tirta Suci diserahkan pimpinan tertinggi ritual untuk sarana memulai Dharma Puja Kepada Bhatara Palah.

Dengan sangat khidmad, para pinisepuh terdiri dari 11 personil Mbok ireng (ibu penjaga kebersihan bhumi, para pinisepuh mewakili trimurti, dari 4 penjuru arah) berputar mengelilingi candi induk  seperti towaf dan sa’i dalam ibadah haji, red) untuk selanjutnya naik ke altar suci melaksanakan Dharma Puja, diiringi gamelan surga, bacaan mantra-mantra suci yang dipimpin Romo Panindito Lukmin dan Ki Raban Yuwono, seakan terbang bersama Garudeya menembus langit mencapai nirwana.

DSC00742 DSC00796

“Luar biasa. Walaupun di bulan puasa, di bulan yang penuh keprihatinan. Acara suci ini masih bisa dilaksanakan dengan khidmad, lancar, tertib dan tepat waktu”, Puji Bupati Blitar mengawali kata sambutannya.

“Semua dari kita pernah belajar sejarah, bahwa Candi Penataran ini dibangun oleh 3 kerajaan besar yaitu Kerajaan Kediri, Singasari, sampai dengan puncaknya pada Jaman Kerajaan Majapahit. Bahwa mulai dari awal pembangunan setiap raja melanjutkan apa yang telah dimulai raja sebelumnya. Dan seperti yang tercantum dalam Prasasti Palah yang dibacakan oleh  Ki Jontor Siswanto (sekjend LP2BN, red), bahwa Candi Palah Penataran ini di bangun dengan  sangat serius mengandalkan segenap kemampuan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang tinggi. Sehingga siapapun yang merusak tempat ini akan mendapat kutukan – terkena karma yang lama seperti lamanya bulan dan surya menyinari hamparan dunia…Untuk itu kita berikan aplaus kepada panitia penyelenggara acara ini”, tepuk membahana mengakhiri sambutan Bapak Rianto, Bupati Blitar.

Dalam buku panduan, Ki Aris Sugito selaku  Ketua Umum LP2BN menyatakan bahwa: “Candi Palah Penataran adalah Candi Terbesar  di Jawa Timur dan satu-satunya yang disebut Candi Negara di era Majapahit hingga sekarang. Candi ini dibangun untuk semua aliran agama, kepercayaan dan keyakinan, mulai dibangun Pada Tahun 1119 Caka, oleh Prabu Kertajaya(Dhandhang gendis), dilanjutkan Raja Singasari dan Majapahit”.” Candi Penataran berfungsi juga sebagai Pusat Spiritul Nusantara”. “Maka kami LP2BN sebagai generasi penerus dari Para Leluhur Nusantara, menyelenggarakan kembali adat luhur ini”.” Dan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini”,  pungkas Ki Aris Sugito.

DSC00860DSC00863

Sebelum acara diakhiri, ada penyerahan pusaka keris dari Mpu Mujiono, Kademangan, kepada Bapak Rianto Bupati Blitar, Ki Ripto dari Kediri dan Ki Thoyib dari Blitar.

Acara ditutup dengan buka bersama dan  menyantap tumpeng, sumbangan dari para pihak, antara lain dari Bapak Bupati Blitar, seluruh SKPD, Camat Nglegok, Kepala Desa se Kecamatan Nglegok dan dari sumbangan masyarakat.

“Saya datang dari Batam mas, senang sekali mengikuti acara di Jawa seperti ini. Walaupun saya bukan orang Jawa tapi saya suka dan pingin belajar banyak tentang Budaya Jawa yang merupakan bagian penting dari Budaya Nusantara. Semoga tahun depan kami bisa kembali datang ke Candi Penataran ini. Selamat untuk LP2BN !” kata Ibu Tere, mewakili rombongan tamu dari Batam. (Wasis)

Share This:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL