Sekolah Multikultural II dan Outbond Oleh Paguyuban Lintas Masyarakat (PaLM)

SAM_1132SAM_1120

Kediri, Beritamadani.co.id – PaLM (Paguyuban Lintas Masyarakat) yang diketuai oleh Taufik al-Amin mengadakan Sekolah Multikultural & Out Bond, bertempat di Gedung Aula Gereja Pohsarang Kediri. Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 Mei 2016, sampai hari Minggu, 29 Mei 2016. Sekolah Multikultural II ini, dimulai hari Sabtu, pukul 13.00 Wib dan berakhir pada hari Minggu pukul 16.00 Wib. Sebenarnya menurut agenda, acara ini di buka oleh Walikota Kediri namun di wakili oleh Muhyar Kepala Dispora Kota Kediri. Penyampaian materi dari Dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Nain Soeryono, SH.MH. Mewakili Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia dari unsur Sabto Darmo.

Dalam ulasannya, Nain Soeryono menyampaikan, “Generasi muda supaya tidak terjerumus ke hal-hal yang menjurus pada narkoba, teroris, pembunuhan atau pelecehan seksual yang akhir-akhir ini marak menjadi permasalahan di negeri ini. Agama yang sangat heterogen di negeri ini mulai, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Kepercayaan merupakan Agama yang diakui oleh negara”.

“Agama sebagai tuntunan, pencerahan dan pedoman hidup membangun mental bangsa. Yang kita lakukan seperti ini agar ada saling toleransi, bekerja sama antar umat beragama. Agar tidak terjadi gesekan yang menuju perpecahan gara-gara perbedaan agama. Misalnya hukuman mati bagi koruptor itu ada di Amerika, Cina, Eropa tapi di Indonesia belum ada. Hukuman mati hanya berkisar pada narkoba, teoris, pembunuhan, namun belum berlaku bagi koruptor”, pungkas Nain.

Sekolah multikultural ini tidak seperti sekolah biasa, sekolah ini diikuti oleh para generasi muda dari berbagai Agama, misal Ponpes, Kepercayan, Konghucu, Hangtuah, mahasiswa masing-masing membawa delegasi. Setelah penyampaian materi selesai, dibentuk grup diskusi FGD (Forum Grup Discusion) setiap grup beranggotakan 10 orang. Materi diskusi antara lain kajian terhadap budaya, problem-problem antar umat beragama serta transformasi nilai-nilai pluralitas agama dan kebudayaan.

Saat wartawan Beritamadani.co.id mengkonfirmasi Ki Sutarto, Penasehat penghayat kepercayaan. Beliau menyampaikan, “Acara ini bertujuan agar remaja ikut menyatukan diri dengan agama lain dan untuk persatuan dan kesatuan antar umat beragama. Pesertanya kurang lebih 100 orang, dari berbagai unsur agama dan kepercayaan yang masing-masing mengirimkan delegasinya untuk mengikuti acara tersebut. Unsur yang dimaksud antara lain pemuda-pemudi dari Agama Islam 10 orang, Kristen 10 orang, Katolik 10 orang, Hindu 10 orang, Budha 10 orang, Penghayat 10 orang, Konghucu 10 orang. Sedangkan dari Golongan Mahasiswa diwakili oleh Perwakilan Mahasiswa STAIN, UNISKA dan UNIK”.(Made Sumadi)

Share This:

You may also like...

1 Response

  1. bayu bodo anggoro says:

    Wahh kediri punya. !!!! Salam Bhineka Tunggal Ika . Bersama dalam keberagaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL