Candi Kali Cilik Di Desa Candirejo Ponggok Blitar

Blitar, Beritamadani.co.id – Menapaki Jejak Perjalanan Sejarah Blitar, Kota Seribu Candi (Seribu Prasasti), kali ini kita akan mengunjungi Candi Kali Cilik yang posisinya berada di Sebelah Barat Wilayah Kabupaten Blitar, kurang lebih 13 Kilometer, dari Ibukota Kabupaten Blitar yang baru, di Kanigoro. Candi Kali Cilik berada Di Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.
Candi ini merupakan Warisan Sejarah Masa Lampau, tepatnya pada Zaman Kerajaan Majapahit pada Masa Pemerintahan Prabhu Prameswari Tribuana Tungga Dewi. Hal ini bisa kita lihat pada angka tahun yang terbaca 1271 Saka (1349Masehi ,red) yang bisa dilihat di sisi timur Candi. Candi yang terletak di Dusun Kali Cilik ini memiliki banyak nama lain seperti Kali Cilik (terletak di sungai kecil, red), Genengan (tempat tergenangnya air,red), ada juga yang menyebut Puthon (tempat yang tinggi, red) dan ada juga yang berpendapat bahwa Candi ini sebagai Tempat Pendharmaan terakhir Raja Ken Arok.
Untuk mencapai tempat ini sangatlah mudah, sebab Candi ini berada di tepi jalan yang ramai, jalan menuju arah Balai Desa Candirejo.
Dengan dikelilingi panorama alam yang indah, sejuk dan masyarakatnya yang santun dan ramah, Candi ini sangatlah pas untuk orang yang mencari ketenangan, kedamaian dan keindahan. Ya, Candi yang cukup unik ini karena berwarna merah (terbuat dari batu merah,red), dipadu oleh rindangnya pepohonan dan taman hidup yang dominan warna hijau yang mengelilingi Candi adalah harmoni alam yang mampu menghantar kita ke kedamaiaan jiwa untuk Sujud Syukur Kepada Kuasa Sang Maha Pencipta Jagad Raya.
Di malam hari yang gelap dan ketika bintang dan bulan menyapa, Candi ini seperti terlihat merah menyala seperti obor lampu penerang yang terbuat dari bambu dengan minyak tanah sebagai bahan bakarnya, menyala merah ditengah alam yang gelap. Disiang hari, ketika sang matahari membakar Candi ini, terlihat seperti sang pande besi membakar besi sebagai bahan bakar pembuat pedang raksasa, sedang ditempa dan diangkat dan diacungkan menantang langit.
“Candi yang lumayan masih utuh ini biasa ramai dikunjungi pada hari minggu dan hari liburan anak sekolah di siang hari.”
Tapi juga di malam hari diatas jam sebelas malam sering dimanfaatkan oleh kaum spiritualis untuk tempat olah spitritual atau doa bersama. Seperti kemarin malam yang dilaksanakan oleh Paguyuban Macapat Blitar Kawentar-Kiblat Papat Lima Pancer, yang menutup acaranya selalu dengan olah karsa dan rasa diiiringi doa tembang macapat menambah khidmadnya proses penyucian jiwa menuju penyatuan diri dengan Dzat Maha Suci, sehingga tercapai kondisi manunggal jati menuju Rahayu-Mulya Kang Tinata. Bagaimana menurut pendapat anda? (Titi Marlina).

Share This:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL