Melacak Petilasan Sri Aji Joyoboyo dan Sendang Tirto Kamandanu

DSC02407[1]

Kediri, Beritamadani.co.id – Sendang Tirto Kamandanu merupakan Bekas Petilasan Kerajaan Kediri Peninggalan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo. Raja Pujangga Pandito Marganing Mulyo yang terkenal dengan suatu jangka (kisah) sebelum terjadi sudah dibaca, dimengerti. Ibarat Makrifatullah orang yang dekat dengan Tuhannya.
Sendang ini dulunya bernama Sendang Buntung dalam arti kata Sendang Airnya Megung (meluap) namun tidak ada sungai yang mengalir jadi langsung hilang. Selang beberapa lama, oleh Kepala Desa terdahulu namanya diganti Kolo Sonyo. Dalam Sastra Kawi Kolo artinya Memolo atau barang yang jelek sedangkan Sonyo artinya sepi. Jadi Kolosonyo artinya Sepi Ing Loro (kewarasan).

Akhirnya ditelusuri oleh keluarga besar Yogyakarta Hondodento yang sekarang menjelma menjadi yayasan Hondodento Yogyakarta diganti sendang Tirto Kamandanu artinya banyu penguripan. Lalu di pugar. Peletakan batu pertama, tgl 24-2-1975 pelestarian oleh Bupati Usri 17-2-1976.

Wartawan BeritaMadani.co.id, menemui Ki Suratin Juru Kunci Sendang Tirto Kamandanu pada hari Kamis, 19 Mei 2016 pukul 11.30 wib untuk melacak Petilasan Sri Aji Joyoboyo dan Sendang Tirto Kamandanu yang terletak di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Ki Suratin menceritakan Sejarah Tentang Sendang Tirto Kamandanu dan Petilasan Sri Aji Joyoboyo

Sendang ini digunakan untuk bertapa (semedi) oleh Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo sampai sekarang air ini dikeramatkan. Sesuai dengan keyakinan adat yang ada, untuk memohon berkah kepada Yang Maha Kuasa lewat yang sakral ini jadi tidak di Tuhankan atau di Dewakan. Jadi tempat ini persyaratan bersuci entah keyakinan apa, agama apa itu boleh saja yang penting antara Manusia dengan Tuhannya dan air ini yang dikeramatkan sebagai alat untuk bersuci.

Ini adalah tempat yang dikeramatkan untuk bersuci. Akhirnya ini menjadi keramat. Tempat ini bukan keramat tapi dikeramatkan. Akhirnya setiap 1 syuro diadakan upacara yang menjadi panitia tokoh masyarakat sekitar dan warga desa membantu sebatas kemampuan yang ada setiap pelaksanaan ziarah 1 syuro.

Joyoboyo seorang raja yang arif bijaksana kisah sebelum terjadi petilasannya adalah jarak dari sini setengah kilo atau 500 meter. Disitu akan terpampang suatu tempat Loko Busono atau tempat untuk menyimpan pakaian yang ada Loko Mahkota tempat penyimpanan mahkota. Lalu ada Loko Mukso tempat menghilang raganya. Sampai sekarang tidak bisa hilang dari lamunan manusia budaya Jawa.

“Semoga Budaya Lestari menjadi suatu cermin budaya yang selaras”, pungkas Ki Suratin juru kunci Sendang Tirto Kamandanu, Desa Menang Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.(Widya)

Share This:

You may also like...

1 Response

  1. bayu bodo anggoro says:

    Salam budaya, semoga kebangkitan kearifan lokal menjadikan pandasi tata susila,, berbangsa,, berdamping PANCASILA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Positive SSL